Jangan Tunggu Bengkok Parah, Kenali Skoliosis sejak Dini

  • 18 Agt 2026 21:19 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SURAKARTA – Skoliosis tidak sekadar kondisi tulang belakang yang terlihat bengkok, tetapi juga dapat disertai rotasi atau perputaran tulang belakang sehingga bentuk tubuh tampak tidak simetris. Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. Soeharso Surakarta, dr. Astrid Astari Aulia, Sp.KFR., mengatakan deteksi dini penting dilakukan, terutama pada anak dan remaja yang masih berada dalam masa pertumbuhan, dalam program Beranda Astacita RRI Surakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.

Astrid menjelaskan skoliosis merupakan kondisi ketika tulang belakang mengalami kelengkungan ke samping yang dapat disertai komponen rotasi sehingga perlu dilihat secara tiga dimensi. “Skoliosis itu kondisi tulang belakangnya bisa dilihat dari tiga sudut pandang, sehingga bisa disimpulkan kalau kondisi tulang belakang pada pasien skoliosis itu harus dilihat secara tiga dimensi,” kata Astrid.

Menurut Astrid, skoliosis cukup sering ditemukan pada usia remaja, terutama ketika anak memasuki masa pubertas dan mengalami pertumbuhan yang pesat, dengan angka temuan di Indonesia sekitar dua hingga tiga persen dan di Solo sekitar 3,7 persen. “Masa-masa itu adalah masa yang harus diperhatikan dengan lebih, terutama di usia premenarke, nah itu di situlah masa emasnya,” ujarnya, sehingga orang tua perlu lebih memperhatikan perubahan bentuk tubuh anak pada periode tersebut.

Astrid mengatakan kebiasaan duduk miring atau membawa tas berat di satu sisi bukan merupakan penyebab utama skoliosis, meskipun postur yang tidak tepat dapat memperberat kelengkungan pada orang yang memang memiliki kurva skoliosis. “Posisi duduk miring kanan miring kiri itu bukan faktor penyebab utama dari skoliosis, tetapi itu merupakan faktor yang memperberat,” kata Astrid.

Orang tua dapat melakukan pemeriksaan sederhana dengan memperhatikan posisi kepala, tinggi bahu, tulang belikat, lekukan pinggang dan tinggi panggul anak yang tidak simetris, termasuk dengan meminta anak membungkuk seperti posisi rukuk untuk melihat bagian punggung yang menonjol. “Kunci utamanya untuk penanganan skoliosis itu adalah deteksi dini atau screening awal,” ujar Astrid, sehingga jika ditemukan tanda-tanda tersebut orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga medis.

Astrid menegaskan skoliosis tidak selalu harus ditangani dengan operasi karena pilihan terapi disesuaikan dengan besar sudut kelengkungan, usia dan kondisi pertumbuhan pasien, mulai dari pemantauan, latihan hingga penggunaan brace pada kondisi tertentu. “Tujuan utama dari brace itu untuk mencegah progresivitas atau penambahan dari kurva skoliosis itu sendiri,” ucapnya, sedangkan operasi dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu ketika kelengkungan terus bertambah atau muncul keluhan berat.

Penderita skoliosis juga tetap dianjurkan melakukan aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran dan memperkuat otot, dengan pilihan olahraga yang ringan dan cenderung simetris seperti berenang, berjalan, bersepeda atau jogging sesuai kemampuan. “Pasien-pasien dengan skoliosis itu kami sangat anjurkan untuk melakukan olahraga,” kata Astrid, meskipun pemilihan aktivitas tetap perlu disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing pasien.

Astrid mengatakan rehabilitasi medis pada skoliosis bertujuan mencegah kelengkungan semakin bertambah, mempertahankan kemampuan beraktivitas dan membantu pasien membangun kepercayaan diri. “Skoliosis itu adalah penyakit yang tidak untuk ditakuti, tapi harus kita rangkul dan kita cari solusinya bersama,” ujar Astrid, seraya mengingatkan orang tua agar tidak menyalahkan anak dan segera melakukan pemeriksaan apabila menemukan tanda-tanda punggung bengkok. (CA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....