Jangan Asal Self-Diagnosis, Kenali Kecemasan Bersama Psikiater
- 13 Agt 2026 15:44 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SURAKARTA – Rasa cemas merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kecemasan perlu mendapat perhatian ketika muncul terus-menerus, sulit dikendalikan, hingga mengganggu aktivitas dan kualitas hidup seseorang.
Hal tersebut disampaikan dr. Tri Oktaviantini, Sp.KJ., Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD Dr. Moewardi Surakarta, dalam program Obrolan Siang RRI Surakarta dengan tema “Mengenal Lebih Dekat dengan Kecemasan”.
Menurut Tri, setiap orang pada dasarnya pernah mengalami kecemasan, misalnya ketika menghadapi ujian, pekerjaan baru, atau situasi yang dianggap menakutkan maupun mengancam. Dalam kondisi tersebut, munculnya rasa takut, jantung berdebar, berkeringat, hingga sulit berkonsentrasi masih dapat dianggap sebagai respons yang normal selama dapat dikendalikan.
Kecemasan mulai perlu diwaspadai ketika berlangsung terus-menerus dan menetap. Terlebih jika sudah menimbulkan rasa tidak nyaman serta mengganggu aktivitas sehari-hari, waktu istirahat, pola tidur maupun pola makan.
“Bila memang kecemasan itu terjadi tiap hari terus-menerus dan menetap, dan yang paling penting sudah tidak nyaman, sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, itu bisa dikatakan sebagai gangguan kecemasan atau anxiety disorder.” jelas Tri.
Ia menjelaskan, gangguan kecemasan dapat muncul dalam berbagai bentuk, antara lain gangguan panik, fobia, kecemasan sosial, obsessive compulsive disorder (OCD), hingga post-traumatic stress disorder (PTSD). Karena memiliki karakteristik dan penyebab yang berbeda, seseorang tidak seharusnya langsung menyimpulkan kondisi dirinya hanya berdasarkan informasi yang ditemukan di internet atau media sosial.
Media Sosial dan Fenomena Self-Diagnosis
Tri menilai, meningkatnya keterbukaan informasi mengenai kesehatan mental memiliki sisi positif. Masyarakat kini semakin mengetahui bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan psikologis.
Namun, kemudahan memperoleh informasi juga membawa tantangan berupa kecenderungan self-diagnosis, yakni mendiagnosis kondisi diri sendiri tanpa pemeriksaan profesional.
Menurutnya, informasi mengenai gejala gangguan kecemasan memang dapat membantu masyarakat lebih mengenali kondisi kesehatan mental. Namun, informasi tersebut tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan diagnosis.
“Kita tidak boleh untuk self diagnosis. Just know, hanya tahu. Tetapi kita tidak boleh untuk men-judge, untuk menghakimi, untuk self diagnosis.” tegasnya. (Citra)
Tri mengatakan, kecemasan bukan hanya ditandai oleh satu gejala. Kondisi tersebut merupakan kumpulan gejala yang dapat muncul secara fisik maupun psikologis.
Secara fisik, seseorang dapat mengalami jantung berdebar, keringat berlebih, napas cepat, tubuh terasa lemas, hingga gangguan tidur. Sementara secara psikologis dapat muncul rasa takut, gelisah, tegang, sulit berkonsentrasi, maupun pikiran yang terus berulang terhadap sumber kekhawatiran.
Jika berbagai kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama dan mulai menurunkan kualitas hidup, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga profesional, baik psikolog maupun psikiater.
Jangan Takut Berkonsultasi ke Psikiater
Dalam perbincangan tersebut, Tri juga menyoroti masih adanya stigma terhadap layanan kesehatan jiwa. Sebagian masyarakat masih merasa takut atau enggan datang ke psikiater karena menganggap konsultasi ke dokter spesialis kedokteran jiwa hanya diperuntukkan bagi orang dengan gangguan jiwa berat.
Padahal, menurutnya, gangguan kesehatan mental dapat dialami seseorang meskipun secara fisik terlihat baik-baik saja.
Ia juga menjelaskan bahwa penanganan gangguan kecemasan tidak selalu identik dengan pemberian obat penenang. Dalam penanganan oleh profesional, obat dapat menjadi salah satu bagian terapi sesuai kondisi pasien, sementara psikoterapi juga dapat diberikan untuk membantu seseorang menghadapi masalah dan mengatur pola pikirnya.
“Ke psikiater itu biasanya memang tidak hanya obat, tetapi juga kita memberikan psikoterapi.” ungkapnya.
Cemas Setelah Pengalaman Traumatis Bisa Jadi Hal yang Wajar
Dalam sesi interaktif, seorang pendengar juga menceritakan rasa takut setelah sebelumnya merawat orang tua yang didiagnosis kanker. Pengalaman tersebut membuatnya khawatir ketika mengalami kondisi kesehatan tertentu yang mengingatkannya pada pengalaman sang ibu.
Menanggapi hal tersebut, Tri menjelaskan bahwa munculnya rasa cemas setelah seseorang memiliki pengalaman yang berat atau terus terpapar kondisi tertentu dapat menjadi respons yang wajar.
Namun, kondisi tersebut perlu diperhatikan apabila kecemasan muncul terus-menerus, mengganggu tidur dan aktivitas, serta membuat pikiran terus terpaku pada kekhawatiran tersebut.
Jika kecemasan masih bersifat sesekali dan seseorang tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah mengalihkan perhatian dan melakukan relaksasi.
Tri mengingatkan bahwa seseorang tidak perlu langsung menyimpulkan dirinya mengalami kondisi yang sama hanya karena memiliki gejala atau pengalaman yang mirip dengan orang lain.
Kesehatan Mental Perlu Dihadapi Bersama
Di akhir perbincangan, Tri menekankan bahwa kepedulian terhadap kesehatan jiwa tidak hanya menjadi tanggung jawab orang yang mengalami gangguan mental. Lingkungan sekitar juga memiliki peran penting.
Menurutnya, orang yang sedang mengalami persoalan kesehatan mental sering kali membutuhkan sesuatu yang sederhana, yakni didengarkan, diperhatikan, dan dirangkul.
“Dengarkanlah, karena mereka juga butuh didengarkan.” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk mulai lebih peka terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya. Ketika seseorang menunjukkan perubahan perilaku atau sedang mengalami masalah, masyarakat sebaiknya tidak buru-buru memberikan penilaian, menghakimi, atau menganggap persoalan tersebut sepele.
Tri menilai, perhatian sejak awal dapat membantu seseorang mendapatkan dukungan sebelum persoalannya berkembang menjadi lebih berat.
Pada akhirnya, mengenali kecemasan bukan berarti membuat masyarakat semakin takut terhadap kesehatan mental. Sebaliknya, pemahaman yang tepat diharapkan membuat seseorang mampu membedakan antara kecemasan yang masih wajar dan kondisi yang membutuhkan bantuan profesional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....