Ketahui Fakta Gula Aren Tak Selalu Lebih Sehat
- 30 Jul 2026 15:05 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Minuman berbahan gula aren semakin mudah ditemukan di berbagai kedai kopi maupun gerai minuman kekinian. Banyak masyarakat memilih gula aren karena dianggap lebih alami dan lebih sehat dibandingkan gula pasir. Namun, anggapan tersebut perlu disikapi secara bijak karena tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta ilmiah.
Popularitas gula aren tidak terlepas dari citranya sebagai pemanis tradisional yang berasal dari nira pohon aren. Selain memberikan cita rasa khas, gula aren juga sering dipromosikan sebagai alternatif yang lebih baik dibandingkan gula putih. Sayangnya, persepsi tersebut membuat sebagian orang mengonsumsi minuman bergula tanpa memperhatikan jumlah asupan hariannya.
Mengutip artikel "Minuman Gula Aren: Berbahaya atau Tidak?" pada laman Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI (ayosehat.kemkes.go.id) yang diakses pada Kamis, 30 Juli 2026, gula aren memang masih mengandung sejumlah mineral seperti kalium, magnesium, dan zat besi. Namun, kandungan tersebut relatif kecil sehingga tidak menjadikan gula aren sebagai pemanis yang bebas risiko bagi kesehatan.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kandungan utama gula aren tetap berupa sukrosa yang dapat meningkatkan kadar gula darah apabila dikonsumsi secara berlebihan. Oleh karena itu, mengganti gula pasir dengan gula aren bukan berarti seseorang dapat mengonsumsi minuman manis tanpa batas.
Selain kandungan gulanya, masyarakat juga perlu memperhatikan komposisi minuman kekinian secara keseluruhan. Banyak produk tidak hanya menggunakan gula aren, tetapi juga ditambah sirup, susu, krimer, hingga topping yang meningkatkan jumlah kalori secara signifikan. Kombinasi tersebut dapat membuat satu gelas minuman mengandung gula jauh lebih tinggi dibandingkan yang diperkirakan konsumen.
Kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula secara rutin berisiko meningkatkan berat badan, memicu obesitas, serta memperbesar peluang terjadinya diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Risiko tersebut tidak hanya berasal dari jenis gula yang digunakan, tetapi juga dari frekuensi dan jumlah konsumsi setiap hari.
Karena itu, para ahli menyarankan masyarakat tetap menikmati minuman favorit secara bijak. Memilih ukuran gelas yang lebih kecil, meminta pengurangan kadar gula, membatasi frekuensi pembelian, serta memperbanyak konsumsi air putih dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan tanpa harus meninggalkan minuman kesukaan. (Arifin)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....