Anak Mendengkur Perlu Diwaspadai jika Disertai Henti Napas

  • 26 Jun 2026 08:15 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kebiasaan mendengkur pada anak tidak selalu merupakan kondisi normal. Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok (THT) RSUD Bung Karno Surakarta, dr. Kristianto Aryo Nugroho, Sp.T.H.T.B.K.L, mengingatkan orang tua perlu mewaspadai dengkuran yang disertai gangguan pernapasan saat tidur.

Menurutnya, mendengkur terjadi ketika aliran udara melewati saluran napas yang menyempit sehingga menimbulkan getaran pada jaringan di hidung, mulut, atau tenggorokan. Penyempitan tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kelainan struktur anatomi, pembesaran adenoid dan amandel, hingga obesitas.

"Ketika ada struktur yang menutupi jalan napas, udara yang masuk akan menimbulkan getaran dan menyebabkan anak mengorok. Karena itu perlu dilihat terlebih dahulu apakah ada masalah pada hidung, mulut, atau tenggorokannya," kata dr. Aryo dalam dialog Jagongan di Pro 4 RRI Surakarta, pada tanggal 23 Juni `2026.

Ia menjelaskan, kondisi mendengkur dapat ditemukan sejak usia bayi hingga dewasa. Pada bayi, salah satu penyebabnya adalah laringomalasia atau kelemahan jaringan di sekitar saluran napas. Sementara pada anak yang lebih besar, pembesaran adenoid di belakang hidung dan amandel menjadi penyebab yang cukup sering ditemukan.

Namun demikian, yang paling perlu diwaspadai adalah kondisi Obstructive Sleep Apnea (OSA), yaitu gangguan pernapasan saat tidur akibat saluran napas tersumbat. Pada kondisi ini, anak dapat mengalami henti napas sesaat yang biasanya ditandai dengan dengkuran keras, kemudian terbangun seperti tersedak untuk mencari udara.

"Kalau mengorok biasa masih bisa ditoleransi. Tetapi kalau sampai ada fase berhenti napas, lalu anak tiba-tiba terbangun seperti tersedak, itu yang perlu mendapat perhatian karena menandakan kemungkinan OSA," ujarnya.

Dr. Aryo menambahkan, obesitas juga dapat meningkatkan risiko mendengkur. Penumpukan lemak di area leher dapat menekan saluran napas sehingga ruang untuk aliran udara menjadi lebih sempit. Meski begitu, tidak semua anak gemuk pasti mendengkur karena kondisi tersebut juga dipengaruhi bentuk anatomi saluran napas masing-masing individu.

Selain faktor berat badan, paparan asap rokok, debu, dan alergi juga dapat memperburuk pembesaran adenoid maupun amandel. Oleh karena itu, orang tua dianjurkan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari paparan asap rokok pada anak, serta memperhatikan pola makan untuk mencegah infeksi dan iritasi berulang pada saluran napas.

Penanganan mendengkur dilakukan sesuai penyebabnya. Jika berkaitan dengan obesitas, dokter biasanya menyarankan perbaikan pola makan dan penurunan berat badan. Sementara pada kasus pembesaran amandel atau adenoid yang berat dan tidak membaik dengan pengobatan, tindakan operasi dapat menjadi pilihan.

Dr. Aryo mengimbau orang tua segera memeriksakan anak ke dokter apabila mendengkur disertai sering terbangun pada malam hari, tampak kesulitan bernapas saat tidur, atau mengalami gejala seperti tersedak dan mimpi buruk berulang. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kondisi saluran napas dan menentukan penanganan yang tepat. (Hil)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....