Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Solo Raya Ajak Hapus Stigma Gangguan
- 26 Jun 2026 08:16 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Solo Raya terus mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan jiwa sekaligus menghapus stigma negatif terhadap penyintas gangguan mental. Melalui edukasi dan pendampingan, komunitas ini ingin menunjukkan bahwa penyintas dapat pulih dan kembali produktif apabila mendapatkan penanganan yang tepat.
Ketua KPSI Simpul Solo Raya sekaligus Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta, Fithri Setya Marwati, S.E., M.M., Ph.D dalam program Obrolan Komunitas RRI Senin, 22 Juni 2026, menjelaskan bahwa meski bernama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia, anggotanya tidak hanya penyintas skizofrenia.
"Di KPSI ini kita menjadi rumah, menjadi seperti keluarga. Anggota kami bukan hanya penyintas skizofrenia, tetapi juga bipolar, anxiety, depresi, dan berbagai disabilitas psikososial lainnya. Tujuan kami adalah mengurangi stigma negatif terhadap penyintas," ujar Fithri.
Menurutnya, komunitas tersebut juga terbuka bagi keluarga penyintas, relawan, psikolog, psikiater, perawat, hingga masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap isu kesehatan mental. Fithri turut membagikan pengalaman pribadinya sebagai penyintas skizofrenia. Ia mengaku pernah mengalami masa ketika masyarakat menganggap kondisi yang dialaminya berkaitan dengan hal mistis karena minimnya pemahaman mengenai kesehatan jiwa.
"Saya menemukan rumah di KPSI. Di sana saya bertemu teman-teman yang memiliki pengalaman serupa dan mendapat penjelasan dari tenaga profesional. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh," katanya.
Ia menegaskan bahwa gejala seperti halusinasi, perubahan emosi yang ekstrem, hingga kesulitan membedakan kenyataan bukanlah sesuatu yang harus dikaitkan dengan hal-hal supranatural, melainkan kondisi medis yang memerlukan penanganan psikiater. Fithri mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan ketika mulai merasakan adanya gangguan pada kesehatan mental.
"Semakin cepat ke psikiater, kemungkinan pulih akan lebih besar. Kalau terlambat, proses pemulihannya juga akan semakin lama," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya disiplin menjalani pengobatan. Berdasarkan pengalamannya, menghentikan obat tanpa persetujuan dokter dapat menyebabkan kekambuhan.
"Tolong jangan berhenti minum obat secara sepihak. Saya pernah relaps karena merasa sudah sehat lalu berhenti minum obat. Sekarang saya tidak mau mengulanginya lagi," ucapnya.
Sementara itu, anggota KPSI Solo Raya, Ria Renita, menceritakan perjalanan panjangnya hingga akhirnya didiagnosis mengalami schizoaffective disorder, yaitu gangguan yang memiliki karakteristik bipolar dan skizofrenia.
Ia mengaku telah merasakan adanya sesuatu yang tidak beres sejak remaja, namun baru memperoleh diagnosis dari psikiater pada tahun 2020. Setelah itu, ia membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk menemukan komunitas yang dapat mendukung proses pemulihannya.
"Saya tidak mau merasa sendiri. Saya ingin mencari teman yang bisa membantu saya untuk cepat pulih. Akhirnya saya menemukan KPSI," ungkap Ria.
Ria juga menceritakan gejala yang dialaminya, mulai dari mendengar bisikan, melakukan tindakan menyakiti diri sendiri, hingga mengalami halusinasi visual. Meski demikian, ia menegaskan bahwa bantuan profesional menjadi langkah terbaik dibandingkan melakukan diagnosis sendiri berdasarkan informasi di internet.
"Jangan self diagnosis. Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau merasa ada yang tidak beres, lebih baik langsung ke tenaga profesional," ucapnya.
Selain memberikan pendampingan psikososial, KPSI Solo Raya aktif menyelenggarakan seminar, workshop, edukasi masyarakat, hingga kopi darat (kopdar) yang menghadirkan tenaga profesional. Komunitas ini juga menjalin kerja sama dengan rumah sakit, puskesmas, BPVP Surakarta, serta ULD UNIBA untuk memberikan pelatihan keterampilan bagi penyintas agar dapat kembali produktif melalui usaha maupun kegiatan ekonomi.
Menutup perbincangan, Fithri mengajak masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi penyintas gangguan mental. "Mari kita bersama-sama mengentaskan stigma negatif bagi penyandang disabilitas psikososial agar lingkungan kita semakin nyaman dan semakin sehat," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....