Cegah Anemia Remaja Lewat Gizi Seimbang Sejak Dini

  • 21 Jun 2026 19:06 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Wonogiri - Anemia pada remaja masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Selain dapat menurunkan konsentrasi belajar, kondisi ini juga berpotensi memengaruhi kualitas generasi mendatang apabila tidak dicegah sejak dini.

Ahli gizi (nutrisionis) RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Cicilia Widuri, menjelaskan anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin atau sel darah merah berada di bawah batas normal.

"Anemia itu adalah suatu keadaan di mana kadar hemoglobin atau sel darah merah di dalam darah kurang dari 12 gram per desiliter," ujarnya, Sabtu 20 Juni 2026.

Menurutnya, remaja menjadi kelompok yang rentan mengalami anemia karena sedang berada pada masa pertumbuhan pesat dan membutuhkan asupan gizi yang lebih tinggi. Selain itu, kebiasaan mencoba berbagai jenis makanan tanpa memperhatikan kandungan gizinya juga dapat meningkatkan risiko anemia.

Cicilia mengatakan anemia tidak hanya berdampak pada kesehatan saat ini, tetapi juga berpengaruh pada masa depan. "Remaja putri yang anemia nantinya berisiko melahirkan anak dengan penurunan IQ hingga 12 poin dibanding ibu yang tidak anemia," katanya.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia, prevalensi anemia pada usia 5 hingga 14 tahun mencapai 16,3 persen, sedangkan pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun sekitar 15 persen.

Gejala anemia yang sering muncul antara lain lemah, letih, lesu, loyo, dan lunglai. Selain itu, penderita juga dapat mengalami pucat pada kelopak mata, telapak tangan, kuku, serta bibir.

Hal serupa disampaikan ahli gizi, Dania Aprilani, menegaskan peran gizi sangat penting dalam mencegah anemia. Menurutnya, kebutuhan zat besi dapat diperoleh dari sumber protein hewani seperti daging, ikan, dan unggas, serta sayuran hijau seperti bayam, kangkung, dan brokoli.

"Protein hewani dan sayuran hijau menjadi sumber zat besi yang baik untuk membantu mencegah anemia," ucapnya.

Namun, ia mengingatkan agar konsumsi teh atau kopi tidak dilakukan bersamaan dengan waktu makan karena dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh.

"Kalau ingin minum teh, sebaiknya dua jam setelah makan atau sebelumnya. Jangan terlalu pekat karena kandungan taninnya lebih tinggi," katanya.

Sebagai alternatif, Dania menyarankan mengonsumsi air putih atau minuman yang mengandung vitamin C seperti jus jeruk setelah makan. Vitamin C diketahui dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi.

Selain menjaga pola makan, Sisilia menambahkan pencegahan anemia juga perlu dilakukan melalui penerapan empat pilar gizi seimbang, yakni mengonsumsi makanan beragam, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, rutin beraktivitas fisik, serta memantau berat badan secara berkala.

Ia juga mengimbau remaja putri untuk rutin mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran. "Untuk pencegahan cukup satu kali dalam seminggu. Khusus saat menstruasi, remaja putri boleh mengonsumsinya setiap hari selama masa haid," ujarnya.

Melalui pola makan bergizi seimbang dan kebiasaan hidup sehat, risiko anemia pada remaja diharapkan dapat ditekan sehingga mereka dapat tumbuh sehat, produktif, dan siap menjadi generasi penerus yang berkualitas. (Ase)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....