Mengenal FOMO, Ketakutan Tertinggal di Era Media Sosial

  • 09 Jun 2026 23:17 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta — Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin akrab di tengah kehidupan masyarakat yang tak lepas dari media sosial. Kondisi ini ditandai dengan munculnya rasa cemas dan takut tertinggal informasi, tren, maupun pengalaman yang dialami orang lain.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD Dr. Moewardi Surakarta, dr. Tri Oktaviyantini, Sp.KJ., menjelaskan bahwa FOMO merupakan perasaan takut dan cemas karena merasa tertinggal dari sesuatu yang dianggap penting atau menarik.

“FOMO adalah perasaan takut, perasaan cemas yang timbul akibat merasa tertinggal dari sesuatu yang tren, yang baru, yang berharga seperti berita, pengalaman, ataupun suatu tren tertentu,” ujarnya dalam program Obrolan Siang RRI Surakarta.

Menurut dr. Viyan, sapaan akrabnya, fenomena ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan media sosial. Arus informasi yang terus mengalir membuat seseorang lebih mudah membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.

“Kita bisa melihat kehidupan orang lain nyaris tanpa batas. Perasaan tertinggal itu kemudian muncul ketika seseorang melihat orang lain menikmati sesuatu tanpa ada dirinya di situ,” katanya.

Meski dapat dialami siapa saja, FOMO lebih banyak ditemukan pada kelompok remaja dan dewasa muda. Namun, tingginya penggunaan media sosial membuat seluruh kelompok usia tetap berpotensi mengalami kondisi serupa.

Lebih lanjut, dr. Viyan menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat memicu FOMO. Selain paparan media sosial yang tinggi, kebutuhan akan pengakuan sosial dan rendahnya rasa percaya diri juga menjadi penyebab yang cukup dominan.

“Salah satu penyebab utamanya adalah perbandingan sosial. Orang menjadi merasa hidupnya kurang menarik dibandingkan orang lain yang dilihat di media sosial,” ucapnya.

Jika tidak dikelola dengan baik, FOMO dapat berdampak pada kesehatan mental. Rasa cemas yang muncul terus-menerus berpotensi berkembang menjadi stres hingga depresi.

“Kalau kecemasan itu berlangsung terus-menerus tanpa penanganan yang tepat, dapat menyebabkan stres dan berlanjut menjadi gangguan kesehatan mental seperti depresi,” katanya.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain sulit lepas dari gadget, terus-menerus memeriksa media sosial, membeli barang secara impulsif demi mengikuti tren, hingga merasa tidak puas dengan kehidupan sendiri.

“Dia tidak bisa lepas dari gadget, selalu mengecek media sosial, dan mulai mengabaikan kehidupan sosial yang nyata. Itu salah satu tanda yang perlu diperhatikan,” ucap dr. Viyan.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa media sosial tidak selalu berdampak negatif. Banyak informasi dan inspirasi yang bisa diperoleh selama pengguna mampu mengelolanya secara bijak.

“Belum tentu penggunaan media sosial yang tinggi berdampak buruk. Yang terpenting adalah bagaimana kita bijaksana dalam menggunakannya,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, dr. Viyan menyarankan masyarakat untuk membatasi penggunaan media sosial, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, serta memperkuat hubungan sosial di dunia nyata.

Ia juga memperkenalkan konsep Joy of Missing Out (JOMO), yaitu kemampuan menikmati waktu untuk diri sendiri tanpa merasa harus selalu mengikuti perkembangan terbaru.

“Belajar menghargai waktu untuk diri sendiri dan menyadari bahwa kita tidak harus selalu mengikuti setiap tren. Fokus pada kebahagiaan kita sendiri,” katanya.

Menutup perbincangan, dr. Viyan mengingatkan bahwa kebahagiaan yang ditampilkan di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan sebenarnya. “Kebahagiaan di media sosial adalah kebahagiaan yang semu saja. Kebahagiaan yang abadi adalah kebahagiaan bersama keluarga dan orang-orang terdekat,” ujjarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....