Gen Z Rentan Burnout, Tekanan Media Sosial hingga Ambisi Berlebih Jadi Pemicu

  • 06 Jun 2026 07:47 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Burnout pada Generasi Z (Gen Z) menjadi fenomena yang semakin banyak mendapat perhatian. Kondisi ini ditandai dengan kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat stres kronis yang berlangsung dalam jangka waktu lama.

Burnout pada Gen Z dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari tingginya ambisi, standar kesuksesan yang tidak realistis, hingga tekanan untuk selalu terhubung melalui media sosial. Di tengah dunia yang semakin kompetitif, generasi ini menghadapi tuntutan besar untuk mencapai kesuksesan sejak usia muda.

Mengutip informasi dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, Gen Z rentan mengalami burnout bukan karena lemah, melainkan karena harus menghadapi banyak tekanan sekaligus di usia yang masih dalam tahap mencari arah hidup. Mereka dituntut untuk cepat sukses, memiliki tujuan hidup yang jelas, mencapai stabilitas finansial, sekaligus menjaga kesehatan mental.

Generasi Z juga dikenal sebagai generasi yang paling terbuka dalam membicarakan isu kesehatan mental. Mereka lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan psikologis dan tidak ragu membahas stres, kecemasan, maupun kelelahan emosional. Namun, di balik keterbukaan tersebut, berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres, depresi, dan kelelahan mental pada Gen Z cenderung lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.

Tumbuh di era internet, media sosial, serta berbagai krisis global yang terjadi secara beruntun membuat Gen Z menghadapi tekanan yang lebih kompleks sejak dini. Kondisi tersebut turut memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri, karier, hingga masa depan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), burnout merupakan sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik. Namun, pada Gen Z, tekanan tersebut tidak hanya berasal dari lingkungan kerja. Faktor akademik, media sosial, dan ekspektasi pribadi yang tinggi juga menjadi pemicu utama.

Generasi ini tumbuh dalam budaya yang sangat kompetitif, di mana produktivitas sering dijadikan ukuran utama keberhasilan. Akibatnya, banyak anak muda merasa harus terus bergerak, berkembang, dan mencapai target tertentu agar dianggap sukses.

Pengaruh media sosial turut memperburuk situasi. Platform seperti Instagram, TikTok, dan LinkedIn kerap menampilkan standar kesuksesan yang tinggi dan sulit dicapai. Berbagai konten bertema self-improvement dan hustle culture memang dapat memberikan motivasi, tetapi tidak jarang juga memicu kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan.

Perasaan tertinggal, tidak cukup baik, hingga takut kehilangan kesempatan atau fear of missing out (FOMO) akhirnya menciptakan tekanan psikologis yang berlangsung terus-menerus.

Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan sinyal bahwa kondisi fisik dan mental seseorang sedang mengalami gangguan. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan manajemen waktu atau teknik relaksasi semata. Diperlukan lingkungan yang lebih sehat dan manusiawi, di mana ambisi serta produktivitas dapat berjalan seimbang dengan kesehatan mental.(Ria)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....