Metode MPASI Baby Led Weaning (BLW), Perlukah Dicoba?

  • 31 Mei 2026 11:44 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Memasuki usia enam bulan, bayi mulai membutuhkan makanan pendamping ASI atau MPASI. Di tengah banyaknya informasi di media sosial, metode Baby-Led Weaning (BLW) menjadi salah satu yang sering diperbincangkan orang tua.

BLW adalah metode pemberian MPASI yang membiarkan bayi memilih dan mengambil makanannya sendiri. Bayi biasanya diberikan finger food tanpa melalui tahap makanan lumat atau puree seperti pada metode konvensional.

Menurut penjelasan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam laman idai.or.id, orang tua menentukan makanan yang disajikan, tetapi bayi menentukan apa yang akan dimakan, berapa banyak, dan seberapa cepat menghabiskannya. Pendekatan ini dianggap dapat melatih kemandirian makan sejak dini.

Sejumlah pendukung BLW menilai metode ini membantu bayi mengenal berbagai tekstur dan rasa makanan. Namun, penelitian yang dikutip IDAI menunjukkan bayi yang menjalani BLW tidak terbukti memiliki indeks massa tubuh yang lebih baik dibandingkan bayi yang mendapat MPASI secara konvensional.

Kekhawatiran lain adalah risiko kekurangan zat gizi. Karena bayi memilih sendiri makanannya, kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, serta zat besi tidak selalu terpenuhi secara optimal.

IDAI juga mengingatkan adanya risiko tersedak pada bayi yang menjalani BLW. Oleh karena itu, bayi harus selalu didampingi saat makan dan hanya diberikan makanan yang aman serta mudah dihancurkan di dalam mulut.

Penelitian yang dipublikasikan di PubMed Central juga menunjukkan pengetahuan ibu mengenai metode BLW masih tergolong kurang. Peneliti menyimpulkan bahwa edukasi mengenai cara memperkenalkan makanan pada bayi perlu ditingkatkan agar orang tua dapat mengambil keputusan yang tepat.

Sebagai kesimpulan, BLW bukanlah metode yang terbukti lebih unggul dibandingkan rekomendasi MPASI dari WHO. Seperti ditegaskan IDAI, “metode BLW saat ini masih menimbulkan kontroversi dan belum dapat dibuktikan sebagai metode pemberian MPASI yang aman dan lebih superior dibandingkan metode pemberian MPASI yang dianjurkan WHO.” (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....