Pelacak Tidur Bantu Pantau Istirahat, tapi Tak Selalu Akurat

  • 30 Mei 2026 21:28 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Penggunaan aplikasi dan perangkat pelacak tidur semakin populer seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas istirahat. Namun, para ahli mengingatkan bahwa data yang dihasilkan perangkat tersebut tidak selalu akurat dan bahkan dapat memengaruhi kondisi psikologis penggunanya.

Menurut data Statistik sekitar 11 persen warga Jerman menggunakan aplikasi atau perangkat pemantau tidur. Sementara itu, Survei Tidur Global ResMed menunjukkan 59 persen responden menganggap tidur yang sehat lebih penting dibanding pola makan seimbang maupun olahraga teratur.

Dilansir dari chip.de, pelacak tidur dirancang untuk membantu pengguna memahami pola istirahat mereka melalui pemantauan jangka panjang. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kebiasaan tidur sehari-hari.

Meski demikian, perangkat pelacak tidur tidak dapat memberikan diagnosis medis secara akurat. Berbeda dengan pemeriksaan klinis yang menggunakan elektroensefalogram atau EEG, perangkat konsumen umumnya hanya mengandalkan data gerakan tubuh dan detak jantung.

Akibatnya, kondisi berbaring diam sering kali dianggap sebagai tidur meskipun seseorang sebenarnya masih terjaga. Para peneliti menyebut perangkat ini cukup baik dalam mendeteksi tidur secara umum, tetapi masih kesulitan membedakan fase tidur dan waktu terbangun di malam hari.

Selain keterbatasan teknis, sejumlah penelitian juga menyoroti dampak psikologis penggunaan pelacak tidur. Studi di Norwegia terhadap lebih dari seribu responden menemukan pengguna muda cenderung lebih sensitif terhadap hasil pengukuran dibanding kelompok usia yang lebih tua.

Hampir separuh responden mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pola tidur mereka melalui perangkat tersebut. Namun, sekitar 18 persen merasa khawatir terhadap hasil yang ditampilkan, sementara sebagian kecil melaporkan kualitas tidurnya justru menurun.

Para ahli menyebut kondisi ketika seseorang terlalu terobsesi mengejar skor atau kualitas tidur sempurna sebagai ortosomnia. Keinginan berlebihan untuk memperbaiki tidur justru dapat meningkatkan kecemasan dan membuat seseorang semakin sulit untuk tidur dengan nyenyak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....