Kebiasaan Minum SKM sebagai Susu Perlu Diluruskan
- 31 Mar 2026 19:43 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Kebiasaan mengonsumsi susu kental manis (SKM) sebagai minuman sebagai pengganti susu masih banyak ditemui di masyarakat. Praktis dan rasanya manis, produk ini sering dianggap setara dengan susu pada umumnya. Namun, anggapan tersebut dinilai perlu diluruskan agar tidak berdampak pada kesehatan.
SKM sejatinya bukan susu minum harian, melainkan produk olahan yang lebih tepat digunakan sebagai pelengkap makanan atau minuman. Kandungan gulanya yang tinggi menjadi salah satu alasan utama mengapa konsumsinya perlu dibatasi.
"SKM dibuat dengan mengurangi kadar air susu dan menambahkan gula dalam jumlah besar, " kata Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University dalam artikel riset ipb.ac.id, dr. Karina Rahmadia Ekawidyani.
Menurutnya, komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, sehingga kandungan protein dan lemaknya tidak sesuai jika dijadikan susu minum utama. Dari sisi kandungan, SKM memiliki kadar gula yang cukup tinggi, bahkan mencapai sekitar 40–50 persen.
Dalam satu porsi sekitar tiga sendok makan, terkandung kurang lebih 15 gram gula. Jumlah ini tergolong besar jika dikonsumsi secara rutin, apalagi tanpa memperhatikan asupan gula dari makanan lain.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama jika SKM dikonsumsi setiap hari sebagai pengganti susu. Padahal, tubuh tetap membutuhkan asupan protein dan nutrisi lain yang lebih lengkap untuk menunjang aktivitas harian.
Karina menegaskan, fungsi utama SKM bukan sebagai sumber gizi utama, melainkan sebagai penambah rasa. Badan POM RI juga telah menegaskan bahwa SKM tidak dianjurkan untuk dikonsumsi sebagai hidangan tunggal berupa minuman susu. Susu kental dapat digunakan sebagai toping, pelengkap, atau campuran pada makanan atau minuman saja.
Selain itu, kebiasaan menuangkan SKM langsung dari kemasan tanpa takaran juga dapat membuat konsumsi gula tidak terkontrol. Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya mulai lebih bijak dengan memperhatikan takaran saji.
Dengan pemahaman yang lebih tepat, masyarakat diharapkan dapat mengubah pola konsumsi dan tidak lagi menjadikan SKM sebagai pengganti susu harian. Edukasi ini penting agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi tanpa meningkatkan risiko penyakit di kemudian hari. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....