Terapi Kurma, Bukan Ramuan Ajaib: Tips Dokter untuk Energi dan Nutrisi

  • 31 Mar 2026 17:21 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kurma bukan obat, tapi buah yang kaya gizi. Ia bisa jadi “bahan bakar cepat” untuk tubuh karena tinggi energi, serat, dan mineral. Kurma membantu menjaga stamina, menstabilkan nafsu makan, dan mendukung metabolisme. Tapi ingat, kurma bukan pengganti obat, melainkan hanya bagian dari pola makan sehat.

Menurut Dr. Dito, dalam tulisannya yang berjudul Terapi Kurma di laman Kemenkes RI 6 Maret 2026 mengonsumsi kurma paling baik mengikuti tiga prinsip sederhana, yaitu: porsi, pasangan, dan posisi waktu.

  1. Porsi

    Porsi merupakan hal yang penting karena ukuran kurma berbeda-beda. Satu kurma Medjool bisa mengandung sekitar 66,5 kkal dan 18 gram karbohidrat, sedangkan kurma Deglet Noor lebih kecil, sekitar 23,4 kkal dan 6,2 gram karbohidrat. “Dua butir kurma” bisa berbeda kalorinya tergantung jenis. Untuk orang sehat, kurma cocok sebagai camilan sebelum aktivitas atau saat butuh energi cepat. Bagi penderita diabetes atau pradiabetes, kurma tetap bisa masuk, tetapi harus dihitung sebagai bagian karbohidrat harian dan disandingkan dengan protein atau lemak sehat, misalnya keju, yoghurt tanpa gula, atau kacang.

  2. Pasangan

    Pasangan makanan membuat kurma lebih bermanfaat. Kurma dengan roti menambah karbohidrat kompleks agar energi lebih stabil. Kurma dengan keju memberikan protein dan lemak yang memperlambat lonjakan gula darah. Sedangkan kurma dengan semangka menambah cairan, membuat lambung lebih nyaman. Untuk anemia ringan, kurma bisa dipadukan dengan buah kaya vitamin C, seperti jeruk atau jambu, agar penyerapan besi lebih maksimal.

  3. Posisi waktu

    Posisi waktu merupakan hal yang juga krusial. Kurma manis dan lengket, sehingga bagi sebagian orang, terutama yang punya maag, dispepsia, atau GERD, konsumsi banyak kurma sekaligus saat perut kosong bisa menimbulkan begah atau nyeri ulu hati. Strategi aman adalah mulai dari porsi kecil, kunyah perlahan, minum air secukupnya, dan dikonsumsi setelah ada “lapisan makanan ringan” sebelumnya.

Kurma tidak hanya soal energi, tetapi ia membawa serat, mineral, dan polifenol yang mendukung fungsi otot, tulang, pencernaan, dan keseimbangan stres oksidatif. Namun Dr. Dito menegaskan, kurma bukan obat untuk penyakit serius. Kurma bisa menjadi pendamping diet untuk anemia ringan, tulang, kolesterol, atau pencegahan penyakit kronik, tetapi tidak menggantikan terapi medis utama.

Keamanan konsumsi dan penyimpanan kurmajuga penting. Perhatikan hal-hal berikut ini:

  • Kurma kering sebaiknya disimpan rapat, di tempat sejuk, kering, dan gelap.
  • Kurma lembek lebih stabil jika disimpan di kulkas.
  • Hindari membasahi kurma saat menyimpan.
  • Perhatikan tanda kerusakan: jamur, bau asam, atau rasa aneh; jika muncul, kurma harus dibuang.
  • Kurma olahan, seperti diisi keju atau dicampur selai kacang, harus disimpan di kulkas dan dikonsumsi lebih cepat.

Intinya, dr. Dito menyampaikan bahwa kurma adalah pangan sunnah yang bergizi. Dengan memperhatikan porsi, pasangan, posisi waktu, serta penyimpanan yang benar, kurma bisa menjadi camilan yang manis tapi tetap sehat.

"Kurma bukan rencana diet itu sendiri, tapi bagian dari rencana yang cerdas. Jika Anda punya penyakit kronik, perlakukan kurma seperti komponen diet yang terukur. Hitung porsinya. Perhatikan respons tubuh. Diskusikan dengan dokter atau ahli gizi bila perlu. Dengan cara ini, kurma tetap bisa menjadi “buah yang bersahabat” bagi kesehatan, tanpa berubah menjadi mitos yang membahayakan," kata dr. Dito. (DR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....