Sekali Klik, Sulit Berhenti: Bahaya Candu Pornografi pada Anak

  • 31 Mar 2026 16:46 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pornografi kini menjadi tantangan yang sering tidak disadari anak dan remaja. Banyak yang tidak sengaja mencarinya, tapi konten itu muncul melalui iklan, tautan, atau rekomendasi di media digital. Sekali terpapar, beberapa anak bisa terbawa pola yang sulit dikontrol, sehingga tidur terganggu, fokus belajar menurun, dan suasana hati ikut berubah.

Menurut dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D dalam tulisannya “Candu Pornografi, Retas Neurokognisi” yang diterbitkan di laman Kemenkes RI 2 Maret 2026, istilah “candu” bukan sekadar label negatif. Anak bisa tersandung konten tanpa sengaja, tapi jika menonton berulang, hal ini bisa mengganggu tidur, belajar, hubungan sosial, dan kesehatan mental. Ia menekankan bahwa candu pornografi sebaiknya dipahami sebagai sinyal bahwa anak butuh dukungan, bukan untuk dihukum.

Langkah pertama adalah mengatur perangkat dengan bijak. Menurut dr. Dito, perangkat yang dikontrol dengan baik bisa menjadi “pagar pertama” yang menunda akses cepat ke konten berisiko. Letakkan gawai di ruang bersama, aktifkan filter usia, dan batasi waktu layar. Dengan begitu, anak mendapat perlindungan awal sekaligus kesempatan bagi orang tua untuk membimbing dengan cara halus.

Langkah kedua adalah percakapan terbuka. Anak perlu merasa aman untuk bercerita tentang konten yang ditemui, tanpa takut dimarahi. Pertanyaan ringan seperti “Akhir-akhir ini ada hal di internet yang bikin kamu bingung?” bisa membuat anak mau berbagi dan orang tua bisa memberi arahan yang tepat.

Langkah ketiga adalah membangun kebiasaan sehat. Tidur cukup, bergerak atau olahraga ringan, melakukan hobi offline, dan berinteraksi dengan teman atau keluarga bisa menjadi “ganjaran” yang lebih aman daripada layar. Dengan kebiasaan stabil, dorongan impuls menonton konten problematis bisa dikendalikan lebih baik.

Jika anak sudah terbiasa mengakses konten bermasalah, menghentikan secara mendadak sering menimbulkan rasa bersalah dan stres. Solusi lebih aman adalah pengurangan bertahap, pemantauan ringan, dan memberi penghargaan pada kemajuan kecil agar anak belajar mengontrol diri tanpa merasa tertekan.

Tujuan dari ketiga langkah ini—pengaturan perangkat, percakapan, dan kebiasaan—adalah melindungi anak agar tetap fokus, memiliki kendali diri, dan merasa aman. Konten digital tidak bisa selalu bersih, tapi lingkungan yang aman dan dukungan konsisten bisa mencegah paparan menjadi kebiasaan berbahaya yang merusak perkembangan mereka. (DR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....