Anak Belum Lancar Bicara? Ini Penyebab dan Langkah Penanganannya

  • 22 Mar 2026 05:52 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Keterlambatan bicara pada anak masih sering ditemui pada usia Balita hingga awal masa kanak-kanak. Kondisi ini perlu dikenali sejak dini karena berhubungan langsung dengan kemampuan komunikasi anak di masa depan.

Terapis Wicara Magha Hearing Care Batam, Ulpa Widianti, A.Md.Kes, mengatakan orang tua perlu memahami tanda awal speech delay, agar penanganan bisa segera dilakukan. Speech delay biasanya terjadi ketika anak usia satu hingga dua tahun, belum mampu mengucapkan kata bermakna.

"Pada rentang usia tersebut, anak seharusnya sudah mulai menyebut kata sederhana seperti mama atau papa. Jika belum muncul respons verbal yang jelas, orang tua perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ' ucapnya kepada RRI.

Lanjutnya, pasien yang datang ke Magha Hearing Care berasal dari berbagai kalangan untuk pemeriksaan pendengaran. Layanan terapi wicara umumnya diberikan kepada anak hingga usia 13 tahun. Sebagian besar anak yang menjalani terapi alami gangguan pendengaran atau keterlambatan bicara.

Menurut Ulpa, penyebab speech delay cukup beragam. Faktor bawaan sejak lahir menjadi salah satu penyebab yang sering sulit ditangani jika tidak terdeteksi lebih awal.

"Faktor lingkungan juga sangat berpengaruh, seperti kurangnya komunikasi dua arah dengan orang tua, penggunaan gawai secara berlebihan, serta kebiasaan menonton konten tanpa interaksi bahasa, " katanya.

Anak yang terlalu dimanjakan juga berisiko mengalami keterlambatan bicara. Ketika setiap kebutuhan langsung dipenuhi tanpa anak harus meminta atau berbicara, anak tidak terlatih untuk menyampaikan keinginannya melalui kata. Kebiasaan ini membuat kemampuan verbal tidak berkembang secara optimal.

Dalam proses penanganan, Ulpa menegaskan terapi wicara tidak bisa disamakan pada setiap anak. Pada anak tanpa gangguan pendengaran, terapi dimulai dengan penyesuaian emosi dan lingkungan.

Anak yang masih sering tantrum akan diajak bermain terlebih dahulu agar merasa nyaman dengan terapis dan situasi sekitarnya. Setelah anak merasa nyaman, terapi dilanjutkan dengan latihan menirukan suara vokal, huruf alfabet, bunyi hewan, dan suara lingkungan.

Anak dilatih untuk menamai kata, menyusun frasa, hingga membuat kalimat sederhana dengan pola subjek, predikat, objek, dan keterangan. Target akhirnya adalah anak mampu berkomunikasi dua arah dan menceritakan pengalaman sederhana, dengan tetap memperhatikan bahwa setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda.

(Noviyana STABN Raden Wijaya Wonogiri/magang)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....