Fenomena Self-Diagnose di Medsos: Perspektif Generasi Muda
- 07 Feb 2026 07:09 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Media sosial kian menjadi rujukan informasi kesehatan, khususnya oleh remaja dan dewasa muda Indonesia di era digital. Konten yang memuat ciri gangguan mental ini memicu fenomena self-diagnose, yakni tindakan mendiagnosis penyakit atau kondisi kesehatan berdasarkan asumsi pribadi tanpa melibatkan tenaga profesional.
Fenomena tersebut tampak jelas di Salah satu platform TikTok melalui unggahan viral yang memicu ribuan respons emosional dalam waktu singkat dari pengguna lain. Komentar seperti “Ternyata saya punya masalah mental health ya?” dan “Saya sempat berpikir bahwa saya banyak berubah, ternyata mengalami mental health dan semua saya alami ” komentar di akun Tiktok tersebut mencerminkan praktik self-diagnose di ruang digital.
Menurut penelitian Wijaya dkk, dalam Jurnal Sains Sosial dan Humaniora (2024) maraknya praktik self-diagnose di kolom komentar TikTok, khususnya di kalangan remaja dipicu karena rendahnya kesadaran individu terhadap kesehatan mental. Oleh karena rendahnya kesadaran individu terhadap kesehatan mental ini, berkontribusi pada meningkatnya risiko kesalahan diagnosis mandiri.
Melalui analisis terhadap tujuh konten kampanye kesehatan mental menunjukkan, unsur visual, audio, dan gestur kreator berperan membentuk persepsi penonton. Paparan berulang terhadap konten semacam ini mendorong pengguna TikTok merasa memiliki gangguan tertentu tanpa pemahaman yang memadai dan memperlihatkan lemahnya self-awareness pengguna dalam memaknai kondisi kesehatan mentalnya.
Survei pendukung pada siswa SMA juga menunjukkan kecenderungan serupa, di mana sebagian besar responden mengaku mengalami gejala tertentu setelah menonton konten kesehatan mental di TikTok. Temuan ini mengindikasikan bahwa rendahnya kesadaran diri membuat pengguna mudah mengaitkan pengalaman pribadi dengan diagnosis yang belum diverifikasi.
Wijaya dkk menilai praktik self-diagnose dapat menghambat upaya pencarian bantuan profesional, karena individu merasa telah memahami kondisinya secara menyeluruh. Padahal, pemahaman tersebut kerap keliru dan justru memperparah kondisi psikologis akibat kecemasan berlebih.
Oleh karena itu, peningkatan self-awareness terhadap kesehatan mental menjadi kebutuhan mendesak bagi pengguna media sosial, khususnya TikTok. Media, kreator konten, dan institusi kesehatan diharapkan menyajikan informasi secara bertanggung jawab agar fenomena self-diagnose tidak terus meluas. Upaya ini penting untuk mendorong masyarakat lebih kritis dan bijak dalam memahami kesehatan mental di ruang digital. (Nur Aeni Abdillah/Wiwik Martani)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....