Mitos Karat dan Fakta Tetanus
- 31 Jan 2026 18:16 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Banyak orang sejak kecil akrab dengan peringatan agar menjauhi besi berkarat karena dianggap bisa menyebabkan tetanus. Kalimat sederhana ini melekat kuat, meski secara ilmiah hubungan keduanya tidak sesederhana itu.
Mengutip akun Instagram @material.populer, secara kimia, karat hanyalah hasil reaksi antara besi, air, dan oksigen. Sementara itu, tetanus merupakan penyakit serius akibat racun saraf yang dihasilkan bakteri Clostridium tetani.
Lantas, mengapa besi berkarat kerap dikaitkan dengan tetanus? Jawabannya terletak pada mekanisme luka dan lingkungan mikro yang mendukung bakteri tersebut berkembang.
Permukaan besi berkarat cenderung kasar dan berpori. Kondisi ini membuatnya mudah menyimpan tanah, debu, dan kotoran yang bisa mengandung spora Clostridium tetani.
Ketika besi berkarat melukai kulit, yang masuk ke tubuh bukan hanya logamnya. Bakteri yang menempel di permukaan karat itulah yang berpotensi memicu infeksi tetanus.
Namun, gejala tetanus tidak muncul seketika. Bakteri membutuhkan masa inkubasi sekitar tiga hingga tujuh hari sebelum menimbulkan kekakuan otot dan gangguan saraf.
Semakin dekat lokasi luka dengan otak, gejala biasanya muncul lebih cepat. Tanda awal yang paling umum adalah rahang kaku, kemudian diikuti kekakuan otot di bagian tubuh lain.
Penting untuk diingat, tetanus tidak dapat sembuh dengan sendirinya tanpa penanganan medis. Jadi, bukan karat yang menyebabkan tetanus, melainkan bakteri berbahaya yang menempel dan masuk melalui luka terbuka.
(Ridho Wicaksono)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....