Menyusui Lancar Tanpa Nyeri, Ini Kuncinya
- 31 Jan 2026 14:50 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID., Surakarta - Banyak ibu mengira nyeri saat menyusui adalah hal yang wajar. Padahal, rasa sakit, puting lecet, hingga berat badan bayi yang tidak naik, sering kali berawal dari satu masalah utama: pelekatan menyusui yang tidak tepat.
Memahami cara pelekatan yang benar menjadi kunci agar ASI keluar optimal dan proses menyusui terasa nyaman bagi ibu dan bayi. Dokter sekaligus konselor menyusui dan MPASI Klinik Sri Murti Husada, Surakarta, dr. Silvia Khasnah Widhiastuti, mengatakan pelekatan menyusui memiliki rumus sederhana yang mudah diingat, yakni "A Mu Bi Da".
Hal itu disampaikannya dalam acara Kelas Ibu Hamil dan Menyusui di Klinik Sri Murti Husada, pada Sabtu, 31 Januari 2026. “A artinya areola lebih banyak terlihat di bagian atas, Mu berarti mulut bayi terbuka lebar, Bi adalah bibir bayi membuka ke luar atau flange, dan Da yaitu dagu bayi menempel ke payudara,” kata dr. Silvia.
Lanjutnya, pelekatan yang sudah efektif dapat dikenali dari hisapan bayi yang dalam dan ritmis, disertai suara menelan. Pada awal menyusu, hisapan bayi biasanya cepat, kemudian menjadi lebih dalam saat refleks pengeluaran ASI atau "let down reflex" terjadi.
Selain itu, ibu tidak akan merasakan nyeri saat bayi mulai menghisap dan bentuk puting tetap seperti sebelum menyusui. Bayi juga tampak tenang dan tidak sering melepas payudara, meskipun berkeringat atau terlihat sedikit ngos-ngosan masih tergolong wajar.
Ciri lain dari pelekatan yang efektif adalah payudara ibu terasa lebih ringan setelah menyusui. dr. Silvia menganjurkan agar ibu menyusui bayi hingga tuntas di satu sisi payudara sebelum berpindah ke sisi lainnya.
Semenara itu, pelekatan menyusui yang tidak benar dapat ditandai dengan puting terasa nyeri, perih, atau lecet, bayi hanya mengisap ujung puting, terdengar bunyi “klik” saat menyusu, serta bayi sering tertidur terlalu cepat. Tanda lainnya adalah bentuk puting menjadi pipih atau menyerupai lipstik, muncul luka setelah menyusui, dan berat badan bayi tidak naik sesuai kurva pertumbuhan.
Dalam praktik menyusui, dr. Silvia juga menekankan pentingnya posisi yang benar. Meski terdapat berbagai posisi menyusui, ada prinsip universal yang perlu diperhatikan, yakni "S-D-T-H".
Prinsip "S-D-T-H" meliputi beberapa hal berikut ini:
- kepala dan badan bayi berada dalam satu garis;
- bayi didekatkan ke payudara, bukan payudara ke bayi;
- topang leher, punggung, dan bokong bayi dengan baik; serta
- badan bayi menghadap ke badan ibu.
Dengan memahami pelekatan dan posisi menyusui yang tepat, ibu diharapkan dapat menyusui dengan nyaman dan efektif. Ini penting untuk mendukung tumbuh kembang bayi secara optimal. (Dinar Rusydiana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....