Positif TBC Masih Tinggi, TPPT Surakarta Gelar Rakor

  • 28 Jan 2026 02:28 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Masih tingginya kasus positif Tuberkulosis (TBC) di Kota Surakarta, Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TPPT) mengadakan rapat koordinasi dengan agenda monitoring dan evaluasi bersama perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, media hingga akademisi.

Rapat koordinasi (Rakor) sendiri diadakan di Gedung Sekretariat Bersama pada Senin, 26 Januari 2026 yang dipimpin Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Sekretariat Daerah (Setda) Kota Surakarta, Purwanti.

Ditemui setelah acara, Purwanti mengatakan selain masih tingginya penemuan kasus positif TBC, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Sekretariat Daerah (Setda) Kota Surakarta ini mengatakan tingkat kematian juga tinggi.

"Jadi memang situasi Tuberkulosis di Kota Surakarta berdasarkan hasil penemuan masih cukup tinggi, ini mnejadi tantangan Pemerintah Kota dengan gerakan bersama mengakhiri penyakit ini, sebagaimana direncanakan eliminasi di tahun 2030. Tingkat kematian juga masih cukup tinggi ya, ada 176 orang yang meninggal karena kasus ini sepanjang tahun 2025," kata Purwanti.

Situasi Kasus Tuberkulosis yang terjadi secara global di semua negara dan Indonesia berada pada peringkat lima besar  (Foto: RRI/ Joko)

Meskipun tingkat positif TBC masih tinggi sebanyak 2000an kasus hingga 2026, namun dalam target penemuan atau pendataan sepanjang 2025 cukup baik mencapai 96 persen dengan tingkat pengobatan hingga sembuh mencapai 90 persen.

TPPT Kota Surakarta menduga masih belum bisanya eliminasi dalam kasus TBC karena adanya stigma yang terjadi di masyarakat terkait tidak beraninya memeriksakan diri di Fasilitas Kesehatan (Faskes), sehingga menimbulkan penularan yang mengakibatkan jumlah penemuan tinggi.

Ditambahkan Purwanti, dalam data kasus tingkat penularan cukup tinggi terjadi di lingkup keluarga, hal itu diketahui dengan tingginya penularan kasus TBC kepada anak-anak yang mencapai 20 persen.

"Sekali lagi tetap mendorong adanya kesadaran masyarakat di tingkat keluarga terutama, karena yang kita prihatin juga dari sekian kasus itu 20 persennya adalah kasus TBC pada anak, yang di mana bahwa penularan kasus ini ada dari orang terdekat, yaitu orang tuanya," katanya menambahkan.

Penemuan kasus Tuberkulosis di Kota Surakarta sepanjang tahun 2025 dari lima Kecamatan  (Foto: RRI/ Joko)

Sementara itu, Kepala Tim Kerja (Katimja) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Agus Hufron, berharap masyarakat bisa lebih aktif memeriksakan diri saat ada tanda-tanda terkena Tuberkulosis.

"Jadi penanganan TBC ini tidak hanya di jajaran kesehatan saja, jadi perlu ada peran stakeholder yang terkait. Diharapkan peran semuanya terkait TBC sehingga tidak usah menunggu sakit, begitu ada gejala dan lain sebagainya bisa pro-aktif memeriksakan diri," ucap Agus Hufron.

Lebih lanjut, Agus Hufron juga mengingatkan kepada para pasien yang sudah terdata positif TBC untuk bisa menjalankan pengobatan hingga tuntas. Karena hal itu mampu membuat tingkat penularan kecil.

"Pengobatan sampai selesai atau sampai sembuh, sehingga penularan kecil. Kemudian berikutnya kita tentukan pasien yang ada di rumah, kontaknya dengan siapa saja agar kita berikan pengobatan pencegahan. Bagi para orang tua juga harus memberikan vaksinasi TBC kepada anak," ucapnya menambahkan. (JK)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....