BPOM dan UNS Pacu Hilirisasi Riset Herbal Nasional
- 05 Des 2025 18:01 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, menegaskan perlunya lompatan besar dalam pengembangan herbal Indonesia.
Meski negeri ini memiliki 31.000 jenis tumbuhan berpotensi obat, hanya 72 produk yang berhasil naik kelas menjadi obat herbal terstandar dan 20 produk berstatus fitofarmaka. Padahal, Indonesia menguasai 80% biodiversitas herbal dunia.
Usai mengisi materi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Taruna menyoroti ironi besar yang membelenggu industri herbal nasional. Dari 18.600 produk jamu berizin edar, hanya sebagian kecil yang berhasil menembus tahap riset lanjutan dan sertifikasi yang diperlukan untuk masuk fasilitas layanan kesehatan.
“Kita punya kekayaan luar biasa, tetapi risetnya berhenti di perpustakaan. Publikasi jadi tujuan akhir, padahal harusnya menuju komersialisasi dan dinikmati masyarakat,” ujar Prof. Taruna, Jumat (5/12/2025).
Ia menjelaskan sejumlah tantangan besar, mulai dari standarisasi ekstrak herbal, minimnya minat peneliti, hingga produk herbal yang belum masuk formularium kesehatan akibat regulasi yang tidak relevan. Pemerintah, kata Prof. Taruna, tengah menyiapkan revisi Permenkes No. 58 agar jalan produk herbal ke fasilitas kesehatan semakin terbuka. Pada saat yang sama, ia menilai kolaborasi kampus–industri–pemerintah menjadi kunci.
“UNS ini visioner. Kampus harus terlibat sejak awal agar riset terstandar dan bisa sampai ke masyarakat,” katanya.
Rektor UNS, Prof. Hartono, memastikan kampus siap menjadi pusat percepatan hilirisasi riset herbal. UNS tengah menggodok pembentukan Pusat Pengembangan Tropical Herb Medicine dan Biomedical Engineering yang terintegrasi dengan RS UNS.
“Setiap tahun publikasi kami lebih dari 100. Tetapi riset ini tidak boleh berhenti di jurnal atau paten. Targetnya harus sampai fitofarmaka,” ucap Prof. Hartono menegaskan.
UNS juga menyiapkan pembukaan poliklinik herbal sebagai bentuk penerapan nyata hasil riset, melanjutkan berbagai penelitian herbal yang sudah berjalan sejak masa pandemi.
Kolaborasi ini diharapkan melahirkan peningkatan signifikan produk fitofarmaka dalam 3–4 tahun mendatang, sekaligus membuka jalan agar kekayaan hayati Indonesia tidak lagi berhenti pada potensi, tetapi menjadi kekuatan kesehatan nasional. (Dania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....