Mikroplastik Masuk Tubuh dari Makanan dan Udara

  • 31 Agt 2025 16:34 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Keberadaan plastik dalam kehidupan sehari-hari memang tak terelakkan. Namun, tanpa disadari, sisa-sisa plastik yang mencemari lingkungan bisa berubah menjadi mikroplastik dan berdampak serius bagi kesehatan manusia.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, mikroplastik merupakan potongan plastik berukuran sangat kecil, yakni kurang dari 5 milimeter. Benda ini berasal dari dua sumber utama, yaitu mikroplastik primer yang sengaja diproduksi untuk keperluan kosmetik, sabun, atau deterjen, serta mikroplastik sekunder yang muncul akibat pecahan dari plastik besar seperti botol, kantong belanja, atau pembungkus makanan.

Bahaya mikroplastik terletak pada kemampuannya masuk ke tubuh manusia melalui berbagai jalur. Salah satunya adalah dari konsumsi ikan atau hewan laut lain yang sebelumnya telah memakan mikroplastik di perairan tercemar. Selain itu, mikroplastik juga bisa terhirup melalui udara atau menempel pada makanan dari wadah plastik yang sudah terdegradasi.

Beberapa jenis bahan kimia dalam mikroplastik yang sering ditemukan antara lain Bisphenol A (BPA), ftalat, dioksin, serta berbagai bentuk plastik seperti polietilen dan polipropilen. Zat-zat ini diketahui berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan jika menumpuk dalam tubuh, mulai dari iritasi, peradangan, gangguan hormon, hingga risiko munculnya kanker.

Meski tidak mudah sepenuhnya menghindari paparan mikroplastik, masyarakat tetap dapat melakukan langkah preventif, antara lain:

  1. Menghindari penggunaan wadah plastik untuk memanaskan makanan
  2. Memilih tempat makan dan botol minum berbahan non-plastik
  3. Mengurangi konsumsi makanan dalam kemasan plastik
  4. Membiasakan memilah dan membuang sampah dengan benar
  5. Menggunakan tas belanja sendiri dan tidak bergantung pada plastik sekali pakai

Saat ini, belum ada teknologi yang benar-benar mampu menghilangkan mikroplastik dari lingkungan. Namun, kesadaran individu dan kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi dampaknya.

(Dinar Rusydiana/ Manda Setyana, Siswi SMKN 1 Pedan, Magang di RRI)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....