Temuan 399 Kasus Baru HIV/Aids di Solo Jadi Perhatian Bersama

  • 08 Nov 2024 20:54 WIB
  •  Surakarta
KBRN,Surakarta: Temuan kasus baru HIV/Aids di Kota Solo sepanjang Januari – Oktober 2024 sejumlah 399 kasus.perlu menjadi perhatian semua pihak. Oleh sebab itu, perlu tindakan preventif dengan melibatkan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) agar bisa menjangkau kelompok rentan/kelompok berisiko yang sulit dijangkau oleh tenaga kesehatan formal.

Direktur Yayasan Mitra Alam, Ligik Triyogo mengungkapkan, pihaknya bersama Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) telah menggelar pertemuan yang dihadiri sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dilingkungan Pemerintah Kota Surakarta dan berbagai OMS yang peduli pada isu seputar HIV/Aids dan TB (tuberculosis,) seperti Yayasan SPEK-HAM, Yayasan KAKAK, Mentari Sehat Indonesia, PDA Aisyiyah, dan L-Paska.

“Kegiatan itu diawali oleh pemaparan dari Dinas Kesehatan Kota Surakarta terkait tren kasus HIV/Aids yang ada di Solo, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan akses anggaran pemerintah kota untuk OMS pegiat HIV/Aids,” kata dia, Jumat (6/11/2024).

Berdasarkan paparan data Dinas Kesehatan Kota Surakarta sejak Januari – Oktober 2024 lalu, ditemukan 399 Orang Dengan HIV/Aids (ODHA) baru. Hal ini perlu jadi perhatian mengingat adanya upaya mencapai Three Zero HIV/Aids di 2030 mendatang.

Oleh sebab itu koordinasi lintas sektor, lintas program, penguatan layanan kesehatan, hingga peningkatan jejaring layanan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat atau Organisasi Masyarakat Sipil penting untuk dilakukan.

“OMS punya kemampuan lebih dalam menjangkau kelompok berisiko/rentan yang sulit diakses oleh tenaga kesehatan formal misalnya dalam menjangkau kelompok LSL (laki-laki seks laki-laki), transgender, dan lain sebagainya. Pemerintah merencanakan dan mengawasi, OMS berperan aktif di lapangan karena OMS lebih efektif dalam melakukan pendekatan dengan kelompok berisiko,” katanya.

Technical Officer OPSI Surakarta, Rosma Dewi menambahkan, pentingnya kebijakan mekanisme kerjasama swakelola adalah untuk memberikan kesempatan pada masyarakat untuk mengambil peran aktif.

Di sisi lain pemerintah bisa menjawab partisipasi masyarakat pembangunan sekaligus memberi kesempatan seluasnya pada organisasi ke masyarakat untuk terlibat dalam program pemerintah.

“Kerjasama swakelola tipe II ini merupakan peluang yang baik untuk masa depan kolaborasi pemerintah dan organisasi pegiat HIV/Aids di Kota Surakarta,” terang dia. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....