Benarkah Obat Tidak Boleh Sembarangan Digerus? Ini Alasannya
- 29 Sep 2026 12:57 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Menggerus obat tablet menjadi bubuk atau puyer sering dianggap sebagai cara praktis, terutama bagi orang yang kesulitan menelan tablet. Namun, tidak semua obat aman dihancurkan. Bentuk tablet tertentu dirancang dengan teknologi khusus agar zat aktif dilepaskan pada waktu atau lokasi tertentu di dalam tubuh.
Berdasarkan jurnal Farmasi Majalah Farmasetika (2024) tulisan Fatma dkk menjelaskan bahwa obat dengan sistem modified release memiliki mekanisme pelepasan yang berbeda. Sediaan tersebut dapat dibuat sebagai delayed release atau controlled release, sehingga pelepasan zat aktifnya tidak berlangsung seperti tablet biasa. Karena itu, perubahan bentuk sediaan dapat memengaruhi cara obat bekerja di dalam tubuh.
Salah satu jenis yang perlu diperhatikan adalah tablet lepas lambat atau sustained release. Obat ini dirancang supaya zat aktif dilepaskan secara bertahap dalam waktu tertentu. Tablet teofilin menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara tablet biasa dan tablet sustained release dalam kecepatan pelepasan zat aktif. Tablet sustained release membutuhkan waktu lebih panjang untuk melepaskan kandungan obatnya secara keseluruhan.
Jika tablet yang seharusnya melepaskan obat secara perlahan justru digerus, struktur yang mengatur pelepasan tersebut dapat rusak. Akibatnya, zat aktif berpotensi dilepaskan lebih cepat daripada yang dirancang. Dalam kondisi tertentu, perubahan pola pelepasan tersebut dapat meningkatkan risiko efek obat yang terlalu kuat.
Selain tablet lepas lambat, obat salut enterik juga tidak sebaiknya digerus tanpa petunjuk tenaga kesehatan. Lapisan pada tablet tersebut dibuat agar obat tidak langsung dilepaskan di lambung. Tablet salut enterik ketoprofen memiliki karakteristik pelepasan yang diuji dalam kondisi asam dan kemudian dalam kondisi yang menyerupai lingkungan usus. Hal ini menunjukkan bahwa lapisan tablet memiliki fungsi penting terhadap lokasi pelepasan obat.
Masalah lain juga dapat muncul dari proses penggerusan itu sendiri. Metode penggerusan menggunakan blender dapat memengaruhi kadar vitamin C pada tablet. Tablet vitamin C yang digerus dengan blender dan tablet tanpa blender, terdapat adanya penurunan kadar asam askorbat pada sampel yang digerus menggunakan blender.
Bukan berarti semua obat tablet sama sekali tidak boleh digerus. Pada kondisi tertentu, obat memang dapat dibuat menjadi puyer atau serbuk berdasarkan pertimbangan dokter dan apoteker, misalnya ketika pasien mengalami kesulitan menelan atau membutuhkan dosis yang tidak tersedia dalam bentuk tablet.
Karena itu, kebiasaan menggerus obat sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan bentuk tablet atau pengalaman sebelumnya. Informasi pada kemasan, etiket obat, serta petunjuk dokter atau apoteker perlu diperhatikan terlebih dahulu. Terutama untuk obat dengan keterangan seperti extended release, sustained release, controlled release, delayed release, atau salut enterik, perubahan bentuk obat tanpa petunjuk dapat mengubah tujuan formulasi obat tersebut. (Nuri)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....