Sebanyak 210 Manuskrip Kuno Karaton Surakarta Mulai Didigitalisasi
- 28 Sep 2026 22:26 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mulai membuka lembaran baru dalam pelestarian manuskrip kuno melalui proyek digitalisasi koleksi Perpustakaan Sasono Pustoko. Program tersebut resmi dimulai pada Senin 28 September 2026 dan ditargetkan mampu mengubah sekitar 210 manuskrip menjadi arsip digital yang dapat diakses lebih luas.
Proyek bernama EAP 1830 tersebut merupakan kolaborasi Karaton Surakarta, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa), dan Perpustakaan Nasional RI. Program itu mendapat dukungan Endangered Archives Programme dari British Library serta pendanaan Arcadia Foundation.
Peluncuran proyek diawali dengan acara selamatan di Sasono Pustoko. Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta, GKR Wandansari atau Gusti Moeng, mengatakan program tersebut telah dipersiapkan sejak sekitar satu setengah tahun lalu.
"Proyek ini sudah kami rancang satu setengah tahun lalu. Setelah proses administrasi rampung, hari ini resmi dimulai. Semoga berjalan lancar tanpa halangan," kata Gusti Moeng.
Menurutnya, proses digitalisasi juga melibatkan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS). Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengenalan generasi muda terhadap sumber-sumber literasi primer yang tersimpan di lingkungan karaton.
Koleksi Sasono Pustoko sendiri memiliki perjalanan panjang. Manuskrip kuno tersebut sebelumnya tersebar di berbagai tempat dan kemudian dikumpulkan oleh Sri Susuhunan Paku Buwono X pada 1920. Sebagian koleksi yang dinilai penting bagi masyarakat selanjutnya ditempatkan di Perpustakaan Radya Pustaka pada 1926.
Perwakilan Perpustakaan Nasional, Aris Riyadi, mengapresiasi keterbukaan Karaton Surakarta dalam memberikan akses terhadap koleksi manuskrip. Menurutnya, digitalisasi menjadi langkah penting agar pengetahuan masa lalu tidak hanya tersimpan secara fisik.
"Keraton adalah pusat ya, jadi pusat pengetahuan. di sana Pusat budaya. Kemudian agar juga hasil karya literasi masa lampau gitu ya, nenek moyang kita masa lampau yang dituliskan di sini itu bisa disebarluaskan dan bahkan bisa mendunia," ucapnya.
Aris menambahkan, Perpusnas siap membantu memperluas akses terhadap sumber literasi primer tersebut. Dengan demikian, koleksi tidak hanya dimanfaatkan oleh peneliti, tetapi juga akademisi serta pegiat literasi dan budaya.
Proyek EAP 1830 dijadwalkan berlangsung selama dua tahun dengan sasaran sekitar 210 manuskrip atau setara 21.000 halaman. Tahapan pekerjaan mencakup pembuatan metadata, pelatihan, pemotretan naskah, hingga upaya pelestarian fisik manuskrip.
Abdi Dalem Sasono Pustoko, KRAT Supardjo Dwijo Hadi Nargoro, mengatakan isi manuskrip sangat beragam. Koleksi tersebut mencatat berbagai pengetahuan mulai dari sejarah, agama, filsafat, kesenian, sastra, arsitektur, pengobatan tradisional hingga pranata mangsa.
"Naskah-naskah ini merekam beragam aspek kebutuhan hidup manusia. Selain proses digitalisasi, naskah yang mengalami kerusakan juga akan dikonservasi dan direparasi agar fisiknya lebih awet," ujar Supardjo.
Setelah proses digitalisasi selesai, hasilnya akan disimpan di Karaton Surakarta, Perpustakaan Nasional, dan British Library. Langkah tersebut diharapkan membuat warisan pengetahuan yang tersimpan dalam manuskrip kuno dapat dijangkau akademisi dan pegiat budaya dari berbagai penjuru dunia. (Ase)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....