Telusuri Naskah Nusantara, Bayu Prasetya Ungkap Tantangan Penelitian di Belanda
- 16 Sep 2026 10:51 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Penelitian terhadap naskah-naskah kuno Indonesia tidak selalu dapat dilakukan di dalam negeri. Sebagian manuskrip justru tersimpan di berbagai perpustakaan dan lembaga arsip di luar negeri, termasuk Belanda. Kondisi tersebut membawa Bayu Prasetya, mahasiswa S2 Kajian Budaya FIB UNS Surakarta, melakukan penelitian langsung ke Leiden University Library, Belanda.
Dalam program Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, Bayu menceritakan pengalamannya meneliti naskah yang berkaitan dengan sejarah Geger Pecinan 1742. Penelitian tersebut menjadi bagian dari tesisnya dan membawanya dua kali ke Belanda pada 2024.
Bayu menjelaskan, ketertarikannya berawal dari ditemukannya dua naskah yang menceritakan tokoh yang sama, tetapi berasal dari latar budaya dan sudut pandang berbeda. Salah satunya merupakan naskah Melayu yang mengisahkan tokoh Susunan Kuning, sedangkan dalam historiografi Jawa dikenal tokoh Sunan Kuning atau Raden Mas Garendi.
“Dua naskah dari budaya yang berbeda tetapi menceritakan satu tokoh yang sama dan kedua naskah itu saling bertolak belakang,” ujar Bayu.
Perbedaan sudut pandang tersebut menjadi salah satu alasan Bayu tertarik melakukan penelitian lebih mendalam. Ia menjelaskan, naskah Melayu yang ditelitinya memiliki keterkaitan dengan konteks kolonial, sementara naskah Jawa ditulis dalam lingkungan keraton.
Penelitian kemudian mengharuskannya mengakses koleksi yang tersimpan di Leiden University Library. Menurut Bayu, Belanda menjadi salah satu lokasi penting bagi penelitian manuskrip Nusantara karena banyak naskah dari Indonesia yang tersimpan di sana sebagai bagian dari sejarah panjang hubungan Indonesia dan Belanda. “Di Belanda itu salah satu tempat yang menyimpan banyak naskah dari Indonesia,” kata Bayu.
Meski sebagian koleksi telah tersedia secara digital, tidak semua arsip dapat diakses secara daring. Beberapa bahan harus dilihat secara langsung di perpustakaan. Bahkan, sebagian arsip lama masih tersimpan dalam bentuk mikrofilm.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi Bayu selama melakukan penelitian. Selain persoalan bahasa Belanda yang digunakan dalam sejumlah arsip kolonial, kualitas mikrofilm juga tidak selalu mudah dibaca.
“Kalau kesulitan itu mungkin lebih ke akses arsip. Arsip di sana enggak semuanya masih tersedia dalam bentuk fisik. Sebagian itu dalam bentuk mikrofilm,” ujarnya.
Menurut Bayu, tidak semua mikrofilm dapat terbaca dengan sempurna. Dalam beberapa kasus, hasil pemindaian hanya memperlihatkan sebagian isi halaman. Bahkan ada arsip yang sama sekali sulit dibaca sehingga peneliti harus mencari sumber pembanding lainnya.
Selain kendala teknis, penelitian manuskrip juga membutuhkan persiapan yang matang. Sebelum berangkat, Bayu biasanya melakukan studi katalog untuk mengetahui naskah apa saja yang tersedia dan di mana koleksi tersebut disimpan.
Persiapan tersebut dinilai penting karena waktu penelitian di luar negeri terbatas. Bayu pernah tinggal sekitar tiga bulan di Belanda untuk penelitian, kemudian kembali lagi selama dua minggu. Karena itu, ia membuat daftar naskah dan arsip yang ingin diakses sebelum keberangkatan.
“Kalau dulu adanya cuma katalog fisik. Jadi kalau mau nyari naskah itu kita harus nyari satu-satu manual. Kalau sekarang kita tinggal ngetik aja naskah apa yang mau dicari, itu sudah langsung keluar,” ucap Bayu.
Di Leiden University Library, akses terhadap koleksi juga dilakukan dengan sistem yang cukup modern. Buku atau koleksi yang ingin digunakan dapat dipesan terlebih dahulu melalui sistem digital dan kemudian diambil di tempat yang telah disediakan.
Pengalaman penelitian di Eropa tersebut sekaligus membuka pandangan Bayu mengenai peluang bagi peneliti Indonesia untuk mengakses manuskrip Nusantara yang tersebar di luar negeri. Selain Belanda, ia menyebut koleksi manuskrip Indonesia juga dapat ditemukan di Inggris, Jerman, dan Prancis.
Menurut Bayu, berbagai program pendanaan penelitian dapat dimanfaatkan mahasiswa, akademisi, maupun peneliti yang ingin melakukan riset ke luar negeri. Ia menilai peluang tersebut semakin terbuka bagi mereka yang telah memiliki pengalaman penelitian dan jejaring akademik.
Namun, sebelum berangkat, calon peneliti perlu memastikan terlebih dahulu keberadaan data yang ingin dicari. Jangan sampai peneliti telah tiba di luar negeri tetapi ternyata koleksi yang dibutuhkan tidak tersedia.
“Yang pertama paling jelas kita sudah tahu datanya yang mau kita cari itu apa. Jangan sampai pas kita sudah sampai sana, ternyata naskahnya enggak disimpan di sini, enggak ada arsip sama sekali,” kata Bayu.
Selain data, pendanaan menjadi faktor penting karena biaya perjalanan dan kebutuhan hidup di luar negeri cukup besar. Relasi dengan mahasiswa atau masyarakat Indonesia yang tinggal di negara tujuan juga dapat membantu peneliti mendapatkan tempat tinggal dengan biaya lebih terjangkau.
Selain penelitian akademik, Bayu kini juga terlibat dalam sejumlah proyek penelitian kebudayaan. Salah satunya menghasilkan produk berupa video animasi, buku cerita anak, serta buku alih aksara dari manuskrip yang ditelitinya. Buku cerita tersebut ditujukan untuk anak usia 7 hingga 9 tahun dan direncanakan didistribusikan ke sejumlah sekolah di Surakarta.
Bagi masyarakat yang tertarik menekuni penelitian kebudayaan, Bayu berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kendala. Menurutnya, konsistensi dan kemampuan mencari informasi menjadi modal penting.
“Kalau kita enggak nyelesaiin sekarang, kapan lagi? Karena semakin kita nunda, pekerjaan kita akan semakin numpuk,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa peluang pendanaan untuk kegiatan kebudayaan sebenarnya cukup terbuka. Tantangannya adalah bagaimana calon penerima mampu menemukan informasi tersebut dan mempersiapkan persyaratan administrasi dengan baik. (Nuri)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....