Bakteri dari Salju dan Gletser yang Mencair, Benarkah Bisa Menjadi Ancaman Baru?

  • 29 Agt 2026 22:02 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Mendengar kata salju atau gletser, yang terbayang biasanya adalah hamparan putih dan udara dingin. Namun, di balik bongkahan es tersebut ternyata tersimpan kehidupan yang tidak terlihat mata, salah satunya berbagai jenis mikroorganisme.

Penelitian dalam nature.com, menunjukkan gletser bukan lingkungan yang steril. Studi pada dua gletser di Himalaya menemukan beragam bakteri di dalam inti es, bahkan terdapat gen yang berkaitan dengan resistansi terhadap sejumlah jenis antibiotik.

Hal ini menjadi perhatian ketika dikaitkan dengan bencana banjir akibat runtuhnya gletser di kawasan Nepal-Tibet pada 26 Agustus 2026. Peristiwa tersebut memicu aliran air, batu, lumpur, dan material es dalam jumlah besar hingga menerjang wilayah di sepanjang aliran sungai.

Lantas, apakah banjir tersebut juga membawa bakteri baru yang berbahaya? Untuk saat ini, belum ada bukti bahwa bencana di Nepal telah memunculkan bakteri baru yang menyebabkan penyakit pada manusia, sehingga kekhawatiran tersebut masih perlu dibuktikan melalui penelitian.

Meski begitu, kekhawatiran tentang mikroorganisme dari gletser bukan tanpa dasar. Penelitian terbaru di Gletser East Rongbuk, kawasan Gunung Everest, menemukan 833 bakteri yang dikategorikan sebagai potensial patogen di berbagai habitat gletser. (sciencedirect.com)

Penelitian tersebut menyebut moraine dan cryoconite sebagai salah satu sumber penting penyebaran mikroorganisme dari kawasan gletser ke lingkungan di bawahnya. Mikroorganisme berpotensi berpindah melalui air lelehan maupun udara, meski keberadaannya sebagai “potensial patogen” tidak otomatis berarti menyebabkan penyakit.

Para peneliti memperingatkan bahwa pencairan gletser berpotensi membawa kontaminan, gen resistansi antibiotik, dan bakteri patogen ke aliran sungai.

Fenomena tersebut membuat perubahan iklim menjadi persoalan yang semakin kompleks. Pemanasan global tidak hanya menyebabkan gletser menyusut, tetapi juga dapat meningkatkan risiko longsoran, banjir bandang, dan perubahan ekosistem mikroorganisme yang selama ini tersimpan di lingkungan es.

Jadi, salju dan gletser ternyata bukan sekadar hamparan es yang indah. Di balik dinginnya, terdapat ekosistem mikroskopis yang masih terus dipelajari, dan perubahan iklim membuat para ilmuwan perlu semakin memahami apa yang terjadi ketika “dunia beku” tersebut mulai mencair. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....