Manfaatkan Pohon Bambu, Petani Karanganyar Bikin Biopestisida Mandiri

  • 28 Agt 2026 12:06 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID., Surakarta - Ketergantungan petani pada pestisida kimia berbiaya mahal yang merusak kesuburan tanah di Kabupaten Karanganyar kini mulai dipangkas lewat inovasi pemanfaatan potensi lokal. Warga Desa Dukuh, Kecamatan Ngargoyoso kini mampu memproduksi agen pengendali hayati dan pupuk organik mandiri, hanya dengan mengolah mikroba alami yang tersembunyi di bawah rimbunnya rumpun bambu desa mereka.

Gebrakan pemanfaatan potensi lokal ini ditegaskan oleh narasumber pelatihan, Ir. Hardian Ningsih, S.P., M.P., yang menyebut tanah perakaran bambu menyimpan potensi mikroba luar biasa yang selama ini terabaikan oleh masyarakat. "Tanah dan perakaran bambu merupakan habitat alami yang ideal bagi Trichoderma sp. karena lingkungan mikroba di rizosfer bambu kaya akan bahan organik. Melalui pelatihan ini, masyarakat dituntun untuk memanen dan memperbanyak jamur menguntungkan ini secara mandiri dengan metode yang murah, praktis, dan ramah lingkungan," kata Hardian Ningsih melalui keterangan tertulisnya kepada RRI pada pertengahan Agustus 2026.

Langkah nyata ini terwujud berkat kolaborasi Tim Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) yang diketuai oleh Ir. Hendramawat Aski Safarizki, S.T., M.T., dengan anggota Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum. dari Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET) Sukoharjo dan Dr. Edi Paryanto, S.P., M.Agr., Dosen D3 Agribisnis Universitas Sebelas Maret (UNS). Lewat dukungan pendanaan hibah BIMA Kemdiktisaintek 2026, tim akademisi turun langsung merangkul Kelompok Peternak Jugosari Setiti serta Karang Taruna Tunas Muda untuk mempraktikkan inovasi tersebut.

Dalam alih teknologi ini, warga diajarkan metode perangkap mikroba menggunakan media sederhana berupa besek berisi nasi yang dikubur di bawah perakaran bambu selama satu pekan. Tak hanya itu, peserta juga dilatih melakukan inokulasi isolat murni ke media beras jagung steril demi menghasilkan biopestisida berkualitas tinggi yang siap disemprotkan ke lahan.

Sentuhan inovasi sederhana tersebut langsung membawa dampak nyata bagi aktivitas harian para peternak setempat. Pemanfaatan jamur Trichoderma sp. mampu mempercepat proses dekomposisi limbah kotoran ternak menjadi pupuk organik kaya nutrisi, sehingga petani tak lagi pusing memikirkan tingginya harga pupuk pabrikan.

Di sisi lain, penguasaan teknik ini memberikan angin segar bagi para pemuda Karang Taruna Tunas Muda untuk menggerakkan wirausaha sosial desa. Keterampilan membiakkan biopestisida mandiri kini menjadi modal baru bagi generasi muda untuk memasok kebutuhan bahan pertanian ramah lingkungan di wilayah sekitar.

Melalui kemandirian baru ini, masyarakat Desa Dukuh tidak sekadar berhasil menjaga kelestarian hara tanah dari paparan racun kimia dalam jangka panjang. Langkah kolektif ini sekaligus menjadi pijakan kuat dalam memperkokoh ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga desa secara berkelanjutan. (Dinar Rusydiana)
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....