LinkedIn Catat Sejuta Laporan Konten yang Diduga Dibuat AI

  • 24 Agt 2026 22:10 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – LinkedIn mencatat lebih dari satu juta pengguna telah menggunakan fitur “seems like AI slop” untuk melaporkan konten yang diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Fitur tersebut diluncurkan pada awal Agustus untuk membantu pengguna mengidentifikasi dan mengurangi kemunculan konten AI yang dianggap tidak berkualitas di lini masa.

Dilansir dari techcrunch.com, Chief Product Officer LinkedIn, Hari Srinivasan, mengatakan tingginya jumlah laporan menunjukkan pengguna semakin aktif memberikan masukan mengenai konten yang mereka temui di platform. Fitur tersebut dapat digunakan melalui menu tiga titik pada bagian kanan atas setiap unggahan atau komentar.

Apabila sebuah unggahan mendapatkan cukup banyak laporan dari komunitas, pembuat konten akan menerima pemberitahuan melalui Post Analytics bahwa kontennya dinilai oleh pengguna sebagai hasil produksi AI.

Srinivasan memperkirakan pengguna LinkedIn kini melihat sekitar 40 persen lebih sedikit konten yang dikategorikan sebagai AI slop dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. Namun, ia menegaskan pengalaman setiap pengguna dapat berbeda karena sistem rekomendasi LinkedIn menampilkan konten yang berbeda pada setiap akun.

Istilah AI slop merujuk pada konten yang dibuat menggunakan AI dalam jumlah besar dan sering kali dinilai memiliki kualitas rendah, repetitif, atau minim nilai bagi pembaca. Fenomena tersebut semakin banyak ditemukan di berbagai platform media sosial seiring meningkatnya penggunaan teknologi generatif AI.

Sebelumnya, LinkedIn bahkan disebut sebagai salah satu platform yang cukup banyak terdampak konten semacam itu. Perusahaan pendeteksi AI, Pangram, menemukan lebih dari 40 persen unggahan berdurasi panjang di LinkedIn pada Juli lalu terindikasi sepenuhnya dibuat menggunakan AI.

Meski demikian, mendeteksi konten buatan AI bukan perkara mudah. Teknologi pendeteksi AI masih memiliki keterbatasan dan tidak selalu mampu memberikan hasil yang akurat.

Sejumlah perusahaan teknologi kini mengembangkan metode lain untuk membantu mengidentifikasi konten AI. Salah satunya melalui teknologi watermark yang dapat menyisipkan tanda tidak terlihat pada hasil keluaran AI sehingga dapat diperiksa untuk mengetahui apakah suatu konten dibuat menggunakan AI.

Langkah serupa juga dilakukan platform lain. Snapchat menggunakan teknologi Pangram untuk menandai teks yang diduga dibuat AI dan menghapus video buatan AI dari fitur Spotlight. Sementara itu, Spotify menghadirkan label AI Persona untuk membantu pengguna mengenali konten musik yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....