Menanam Pisang dengan Biji atau Harus dengan Tunas
- 23 Agt 2026 14:59 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Pisang merupakan salah satu tanaman buah yang mudah ditemukan di Indonesia. Cara memperbanyak tanaman ini juga cukup berbeda dengan tanaman buah lain. Jika sebagian tanaman dapat diperbanyak dengan menyemai biji, pisang yang umum dibudidayakan justru lebih banyak diperbanyak secara vegetatif, terutama menggunakan anakan atau tunas yang muncul dari bonggol. Lantas, apakah pisang sebenarnya bisa ditanam dari biji?
Berdasarkan Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab (2021) karya Shanti, Palupi, dan Yumirnawati menunjukkan bahwa bonggol pisang dapat digunakan sebagai sumber bahan perbanyakan. Penelitian tersebut menguji persemaian bonggol beberapa varietas pisang, antara lain kepok, ambon, uli, dan tanduk. Hasilnya memperlihatkan bahwa bonggol mampu menghasilkan tunas yang kemudian dikembangkan menjadi bibit. Dengan demikian, penggunaan bagian vegetatif seperti bonggol dan tunas memang menjadi salah satu cara yang sesuai untuk memperoleh bibit pisang secara praktis.
Pada budidaya pisang, anakan atau tunas yang tumbuh di sekitar bonggol menjadi bahan tanam yang paling mudah digunakan. Tunas tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari tanaman induk sehingga memiliki karakter genetik yang sama. Setelah dipisahkan dari tanaman induk dan ditanam pada media yang sesuai, tunas dapat berkembang menjadi tanaman pisang baru.
Menanam pisang dari biji bukan berarti mustahil. Pada jenis pisang liar yang menghasilkan biji, biji dapat digunakan untuk menghasilkan tanaman baru. Namun, prosesnya berbeda dengan penanaman anakan pisang yang biasa dilakukan petani.
Biji pisang yang memiliki kemampuan berkecambah dapat mengalami proses perkecambahan terlebih dahulu sebelum tanaman berkembang menjadi bibit. Pada beberapa pisang liar, bahkan diperlukan perlakuan khusus agar embrio di dalam biji dapat berkembang dengan baik. Karena itu, metode biji lebih banyak berkaitan dengan pisang liar, penelitian pemuliaan, atau kegiatan konservasi dibandingkan dengan perbanyakan pisang konsumsi secara sederhana.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa petani umumnya tidak mengambil biji dari buah pisang untuk dijadikan bibit. Selain tidak semua buah pisang mempunyai biji yang layak tumbuh, penggunaan anakan atau tunas jauh lebih sederhana dan relatif cepat untuk menghasilkan tanaman baru.
Bagi masyarakat yang ingin menanam pisang di pekarangan atau lahan pertanian, menggunakan anakan sehat merupakan pilihan yang lebih mudah. Bibit dapat diperoleh dari tanaman induk yang sehat, kemudian anakan dipisahkan dengan hati-hati agar bagian bonggol dan akar tidak mengalami kerusakan berat.
Selain cara konvensional melalui anakan dan bonggol, perkembangan teknologi pertanian juga memungkinkan perbanyakan pisang melalui kultur jaringan. Teknik ini dapat menghasilkan bibit dalam jumlah lebih banyak dalam waktu relatif singkat. Namun, bagi penanaman skala rumah tangga, anakan pisang masih menjadi pilihan yang paling sederhana karena tidak membutuhkan laboratorium atau perlengkapan khusus.
Pisang dapat berkembang dari biji pada jenis-jenis tertentu yang memang menghasilkan biji, terutama pisang liar. Namun, untuk sebagian besar pisang budidaya yang biasa ditanam dan dikonsumsi, penggunaan tunas atau anakan jauh lebih tepat dan praktis.
Perbedaan tersebut berkaitan dengan sifat reproduksi tanaman. Pisang budidaya pada umumnya lebih mengandalkan perbanyakan vegetatif. Tunas yang muncul dari bonggol dapat dipisahkan dan ditanam kembali sehingga petani tidak perlu menunggu buah menghasilkan biji yang layak berkecambah.
Dengan demikian, apabila tujuan penanaman adalah mendapatkan tanaman pisang budidaya secara cepat dan mudah, pilihlah anakan atau tunas yang sehat dari indukan yang baik. Sementara itu, penanaman menggunakan biji lebih tepat diterapkan pada jenis pisang yang memang memiliki biji dan dalam kegiatan penelitian, pemuliaan, maupun konservasi.
Pada akhirnya, anggapan bahwa semua tanaman pisang harus ditanam menggunakan biji juga tidak tepat. Pisang justru memiliki keunggulan dalam perbanyakan vegetatif karena bagian bonggol dan tunasnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber bibit. (Nuri)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....