Bahasa dan Sastra Indonesia, Senjata Perjuangan yang Menyatukan Bangsa

  • 23 Agt 2026 14:52 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya berlangsung melalui perlawanan fisik dan angkat senjata. Bahasa dan sastra turut memainkan peran penting dalam membangun kesadaran kebangsaan, menyatukan pemuda dari berbagai daerah, sekaligus menyuarakan gagasan tentang kemerdekaan.

Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS Surakarta, Prof. Dr. Nugraheni Wardani, M.Hum., pada dialog Jagongan PRO 4 RRI Surakarta Jumat, 21 Agustus 2026 mengatakan bahasa menjadi salah satu alat perjuangan politik yang membantu para pemuda mengatasi sekat kedaerahan. Menurutnya, penggunaan bahasa persatuan membuat gagasan perjuangan lebih mudah disampaikan dan dipahami oleh pemuda dari berbagai wilayah.

“Bahasa Indonesia itu juga tidak hanya menjadi alat komunikasi tetapi alat perjuangan politik karena dia merupakan identitas bangsa kita sebagai bangsa Indonesia,” ujar Prof. Nugraheni.

Peran tersebut semakin kuat setelah para pemuda menyepakati bahasa Melayu yang kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda 1928. Pilihan tersebut dinilai mampu menjadi jembatan komunikasi antardaerah karena lebih mudah dipelajari dan tidak mengenal tingkatan sosial sebagaimana terdapat dalam sejumlah bahasa daerah.

Prof. Nugraheni menjelaskan, keputusan tersebut menjadi bagian penting dari strategi persatuan. Bahasa Indonesia tidak menggantikan bahasa-bahasa daerah, tetapi hadir sebagai bahasa nasional yang memungkinkan masyarakat dari latar belakang berbeda membangun identitas bersama.

“Perjuangan kemerdekaan itu kan tidak hanya melalui senjata, tetapi juga melalui perjuangan diplomasi antar pemuda dari berbagai daerah di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, sastra menjadi ruang lain untuk menyebarkan gagasan kebangsaan. Pada masa kolonial, karya sastra tidak sekadar menjadi bacaan, tetapi juga dapat digunakan untuk menyampaikan kritik sosial, gagasan pendidikan, nasionalisme, hingga emansipasi perempuan.

Prof. Nugraheni menyebut keberadaan Balai Pustaka dan kemudian munculnya Angkatan Pujangga Baru menjadi bagian dari perjalanan sastra Indonesia sebelum kemerdekaan. Karya-karya sastra pada masa tersebut turut membawa gagasan mengenai pendidikan, nasionalisme dan perubahan sosial.

Memasuki periode menjelang dan sekitar kemerdekaan, peran sastra semakin terlihat melalui karya para sastrawan Angkatan 45. Nama-nama seperti Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer disebut sebagai bagian dari perjalanan sastra yang ikut merekam sekaligus memberikan semangat bagi perjuangan bangsa. Puisi seperti “Diponegoro” dan “Karawang-Bekasi” menjadi contoh karya yang hingga kini masih dikenal masyarakat.

“Perjuangan kemerdekaan itu tidak selalu berupa senjata, tapi memberikan semangat, dorongan, kritik, motivasi bagaimana supaya para pemuda Indonesia itu bersama-sama berjuang menuju kemerdekaan,” jelas Prof. Nugraheni.

Kini, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, tantangan terhadap bahasa Indonesia hadir dalam bentuk yang berbeda. Perkembangan teknologi dan media sosial membuat bahasa berkembang sangat cepat. Munculnya bahasa prokem, penggunaan singkatan, serta kebiasaan mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing menjadi fenomena yang semakin mudah ditemui dalam komunikasi sehari-hari.

Prof. Nugraheni menilai perkembangan bahasa merupakan hal yang wajar, karena bahasa Indonesia juga terus memperkaya kosakatanya dari bahasa daerah maupun bahasa asing. Namun, masyarakat tetap perlu memahami kapan harus menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, khususnya dalam situasi resmi dan penulisan ilmiah.

Tantangan tersebut tidak berarti bahasa Indonesia harus menutup diri terhadap perkembangan zaman. Justru, bahasa Indonesia perlu terus berkembang tanpa kehilangan kedudukannya sebagai identitas dan bahasa persatuan. Di tengah komunikasi digital yang semakin terbuka, kemampuan menggunakan bahasa sesuai konteks menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas komunikasi publik.

Di sisi lain, perkembangan bahasa Indonesia di tingkat internasional menjadi peluang yang patut dibanggakan. Dalam wawancara tersebut disebutkan bahwa bahasa Indonesia telah semakin banyak dipelajari di luar negeri, termasuk melalui program studi dan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di berbagai negara.

Prof. Nugraheni berharap generasi muda tidak hanya mengenal bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran di sekolah, tetapi memahami sejarah panjang bahasa tersebut sebagai bagian dari perjuangan bangsa.

“Bahasa Indonesia tentu saja dapat menjadi alat persatuan, karena sudah terbukti tahun 1928 sampai tahun 2026 kita masih bertahan dengan bahasa nasional dan bahasa resmi kita adalah bahasa Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, keberlangsungan bahasa Indonesia sangat bergantung pada sikap masyarakat dalam menggunakannya. Jika tidak dirawat dan digunakan sesuai konteks, bahasa Indonesia menghadapi risiko semakin tersisih oleh bahasa prokem maupun penggunaan campur kode dan alih kode secara berlebihan.

Bahasa dan sastra pada akhirnya bukan sekadar bagian dari sejarah. Keduanya merupakan warisan perjuangan yang masih memiliki peran penting untuk menentukan bagaimana Indonesia berbicara, berpikir, berkarya, dan menjaga persatuan di masa depan. (Nuri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....