Pemkab Bojonegoro Gandeng ISI Solo Perkuat Identitas Batik

  • 11 Agt 2026 14:54 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk memperkuat identitas visual dan filosofi batik serta kriya lokal. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menemukan karakter khas yang dapat menjadi identitas budaya Bojonegoro sekaligus meningkatkan daya saing produk ekonomi kreatif di tingkat nasional.

Kerja sama itu dibahas dalam pertemuan Pemkab Bojonegoro dengan jajaran pimpinan ISI Surakarta di Ruang Rapat Rektorat Lantai 2 ISI Surakarta.

Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, mengatakan penguatan branding menjadi salah satu perhatian Bupati Bojonegoro H. Setyo Wahono. Menurutnya, Bojonegoro memiliki beragam potensi wastra dan kriya yang perlu dikembangkan dengan pendampingan akademisi.

“Dalam upaya pengembangan dan penguatan potensi kriya dan wastra lokal di Bojonegoro yang memiliki banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan sehingga perlu pendampingan mitra ahli dari akademisi,” ujarnya dalam rilis Senin 10 Agustus 2026.

Pendampingan tersebut diharapkan mampu menghasilkan motif maupun desain yang tepat untuk diangkat sebagai ciri khas Bojonegoro. Selain memperkuat identitas, langkah itu juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor seni dan ekonomi kreatif.

“Pelatihan dan kurasi desain serta pendampingan dari para ahli di bidangnya ini sebagai langkah dan upaya peningkatan kualitas SDM di bidang seni dan ekonomi kreatif khususnya saat ini adalah batik,” ucapnya.

Rektor ISI Surakarta, Bondet Wrahatnala, menyambut kolaborasi tersebut. Ia menilai kerja sama dengan Pemkab Bojonegoro menjadi langkah strategis untuk menggali potensi budaya daerah sekaligus merumuskan identitas visual yang memiliki landasan filosofis.

Menurutnya, Bojonegoro tidak hanya memiliki batik, tetapi juga kekayaan budaya lain seperti kriya, kayu jati, kesenian, tradisi Samin hingga Kayangan Api.

“Dari banyaknya potensi yang ada di Bojonegoro seperti Batik, Kriya, Jati, Budaya, Kesenian, Tradisi Samin, Kayangan Api dan sebagainya,” katanya.

Bondet mengatakan hasil riset mahasiswa pascasarjana ISI Surakarta juga dapat menjadi pijakan untuk menggali lebih jauh potensi budaya Bojonegoro. Hasil kajian tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan identitas visual daerah.

Selain penguatan desain dan branding, kerja sama tersebut membuka peluang pengembangan kekayaan intelektual berbasis potensi lokal. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ISI Surakarta dapat memfasilitasi penyusunan naskah akademik terkait hak kekayaan intelektual, termasuk Kekayaan Intelektual Komunal.

Kekayaan tersebut mencakup Ekspresi Budaya Tradisional, Pengetahuan Tradisional, Sumber Daya Genetik hingga potensi Indikasi Geografis. Skema itu dinilai penting untuk melindungi warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Bojonegoro.

Melalui kolaborasi Pemkab Bojonegoro dan ISI Surakarta, pengembangan batik dan kriya tidak hanya diarahkan pada aspek estetika dan pemasaran. Kerja sama juga diharapkan mampu memberikan perlindungan terhadap kekayaan budaya lokal serta melahirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang bersinergi dengan kebutuhan pembangunan daerah. (Ril/Ase)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....