Fakta Unik Kudanil yang Hobi Berendam ternyata Bukan Sekadar Bersantai
- 04 Agt 2026 13:08 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Kudanil (Hippopotamus amphibius) dikenal sebagai salah satu mamalia terbesar di dunia. Meski tubuhnya sangat besar dan tampak tangguh, hewan ini memiliki kebiasaan unik yang hampir selalu dilakukan setiap hari, yakni berendam di sungai, danau, atau rawa selama berjam-jam. Sekilas perilaku tersebut terlihat seperti bentuk relaksasi, tetapi para ilmuwan mengungkap bahwa kebiasaan itu merupakan strategi penting untuk mempertahankan kelangsungan hidup.
Berdasarkan jurnal Animals (2020) karya William dan kawan, di habitat alaminya di Afrika Sub-Sahara, kudanil dapat menghabiskan hingga 16 jam sehari berada di dalam air. Pada siang hari, sebagian besar tubuhnya akan terendam, sementara hanya mata, telinga, dan lubang hidung yang tampak di permukaan. Menjelang malam, barulah hewan ini keluar dari air untuk mencari makan berupa rumput yang dapat mencapai beberapa kilometer dari lokasi berendam.
Kebiasaan berendam berkaitan erat dengan kemampuan tubuh kudanil dalam mengatur suhu. Berbeda dengan banyak mamalia lain, kulit kudanil tidak memiliki bulu pelindung dan tidak memiliki kelenjar keringat yang efektif untuk mendinginkan tubuh. Karena itu, air menjadi ‘pendingin alami’ yang membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil saat cuaca Afrika sangat panas. Selain mengurangi risiko panas berlebih, air juga membantu menjaga kelembapan kulit sehingga tidak mudah mengalami keretakan akibat paparan sinar matahari.
Kulit kudanil memang menghasilkan cairan kemerahan yang sering disebut sebagai keringat darah. Namun, cairan tersebut sebenarnya bukan darah, melainkan sekresi khusus yang berfungsi sebagai pelembap sekaligus memiliki sifat antimikroba dan membantu melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet. Meski demikian, perlindungan tersebut tetap tidak cukup jika kudanil terlalu lama berada di daratan pada siang hari. Inilah sebabnya mereka lebih memilih menghabiskan sebagian besar waktu dengan berendam.
Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa suhu air berpengaruh terhadap perilaku kudanil. Saat suhu air meningkat ke tingkat yang nyaman, intensitas penggunaan kolam atau perairan oleh kudanil juga meningkat. Sebaliknya, pergantian air tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap frekuensi berendam. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor termoregulasi menjadi alasan utama mengapa kudanil sangat menyukai air.
Selain sebagai tempat mendinginkan tubuh, perairan juga menjadi lokasi berkumpul secara sosial. Kudanil hidup dalam kelompok yang dipimpin seekor jantan dominan. Saat berendam, mereka tetap saling berkomunikasi melalui suara, gerakan tubuh, maupun percikan air. Menariknya, meskipun terlihat tenang ketika berada di air, kudanil termasuk salah satu mamalia paling agresif di Afrika apabila merasa wilayah atau anaknya terancam.
Kemampuan berendam juga didukung oleh anatomi tubuh yang unik. Mata, telinga, dan lubang hidung berada di bagian atas kepala sehingga kudanil tetap dapat melihat, mendengar, dan bernapas walaupun hampir seluruh tubuhnya terendam. Saat menyelam, lubang hidung dan telinganya dapat menutup secara otomatis sehingga air tidak masuk ke saluran pernapasan maupun telinga.
Kebiasaan berendam pada kudanil akhirnya bukan sekadar perilaku santai, melainkan hasil adaptasi evolusi yang memungkinkan hewan raksasa ini bertahan hidup di lingkungan bersuhu tinggi. Air menjadi tempat berlindung dari panas, menjaga kesehatan kulit, menghemat energi, sekaligus menjadi ruang interaksi sosial bagi kelompok kudanil. Tanpa kebiasaan tersebut, peluang kudanil untuk bertahan di habitat alaminya akan jauh lebih kecil. (Nuri)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....