Prinsip Fisika Permainan Egrang Menjaga Keseimbangan dengan Ilmu Pengetahuan
- 31 Jul 2026 14:39 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Egrang merupakan salah satu permainan tradisional Indonesia yang masih sering dimainkan dalam berbagai perlombaan maupun kegiatan budaya. Permainan ini menggunakan dua batang bambu atau kayu yang dilengkapi pijakan kaki sehingga pemain dapat berjalan dengan posisi tubuh lebih tinggi dari permukaan tanah.
Penelitian Rumiati, Handayani, dan Mahardika dalam JPF (Jurnal Pendidikan Fisika) FKIP UM Metro (2021) menjelaskan bahwa permainan egrang mengandung berbagai konsep fisika, terutama yang berkaitan dengan energi mekanik dan gerak, sehingga sangat relevan dijadikan media pembelajaran fisika berbasis etnosains. Saat seseorang berdiri di atas egrang, tubuh dan alat harus berada dalam kondisi seimbang agar tidak terjatuh. Prinsip keseimbangan ini berkaitan dengan posisi pusat massa (center of mass). Pemain harus menjaga agar pusat massa tubuh tetap berada di atas bidang tumpu yang dibentuk oleh kedua egrang.
Apabila tubuh terlalu condong ke depan, belakang, atau samping, garis kerja gaya berat akan keluar dari bidang tumpu sehingga timbul momen gaya yang menyebabkan pemain kehilangan keseimbangan. Oleh karena itu, pemain secara alami terus melakukan penyesuaian posisi tubuh untuk mempertahankan kestabilan.
Selain keseimbangan, permainan egrang juga menunjukkan penerapan Hukum Newton. Ketika pemain mulai melangkah, kaki memberikan gaya dorong ke pijakan egrang. Gaya tersebut diteruskan ke batang bambu hingga menyentuh tanah.
Sebagai respons, tanah memberikan gaya reaksi yang sama besar tetapi berlawanan arah sehingga tubuh pemain terdorong maju. Inilah penerapan Hukum III Newton, yaitu aksi dan reaksi. Sementara itu, perubahan kecepatan saat pemain mempercepat atau memperlambat langkah merupakan contoh penerapan Hukum II Newton yang menyatakan bahwa percepatan dipengaruhi oleh besar gaya yang diberikan.
Konsep gaya gesek juga berperan penting selama permainan berlangsung. Gesekan antara ujung egrang dengan permukaan tanah mencegah alat tergelincir saat digunakan. Semakin besar koefisien gesek antara bambu dan tanah, semakin mudah pemain mempertahankan keseimbangan.
Sebaliknya, apabila permukaan tanah licin, gaya gesek berkurang sehingga risiko tergelincir menjadi lebih besar. Oleh karena itu, perlombaan egrang umumnya dilakukan di lapangan tanah atau rumput yang memiliki daya cengkeram lebih baik.
Permainan egrang juga memperlihatkan hubungan antara energy potensial dan energi kinetik. Ketika pemain naik ke atas pijakan egrang, posisi tubuh menjadi lebih tinggi dibandingkan saat berdiri di tanah. Ketinggian tersebut menyebabkan tubuh memiliki energi potensial gravitasi yang lebih besar. Ketika pemain mulai berjalan, sebagian energi potensial berubah menjadi energi kinetik yang menghasilkan gerakan maju.
Setiap langkah melibatkan perubahan energi secara terus-menerus sehingga pemain dapat bergerak dengan ritme yang stabil. Gerakan pada egrang merupakan contoh nyata transformasi energi mekanik yang dapat diamati secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah momen gaya (torsi). Karena posisi tubuh berada cukup tinggi dari tanah, sedikit perubahan posisi badan dapat menghasilkan momen yang cukup besar terhadap titik tumpu pada egrang. Itulah sebabnya pemain berpengalaman selalu menjaga tubuh tetap tegak, mengatur langkah secara teratur, serta menggerakkan kedua egrang secara bergantian. Teknik tersebut membantu memperkecil momen yang dapat menyebabkan tubuh kehilangan keseimbangan. (Nuri)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....