Konsep Pengungkit pada Permainan Jungkat-Jungkit

  • 31 Jul 2026 14:44 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Jungkat-jungkit merupakan salah satu permainan yang hampir selalu ditemukan di taman bermain anak. Di balik keseruannya, permainan ini sebenarnya menjadi contoh nyata penerapan konsep pengungkit atau tuas, yaitu salah satu jenis pesawat sederhana yang mempermudah manusia dalam melakukan kerja. Melalui jungkat-jungkit, anak-anak dapat mengenal bagaimana gaya, titik tumpu, dan keseimbangan bekerja secara langsung tanpa harus berada di dalam ruang kelas.

Berdarkan Jurnal Teknik Mesin Undip (2023), prinsip pengungkit mampu menghasilkan perpindahan gerak yang efektif sehingga kelereng dapat bergerak secara berulang melalui mekanisme yang dirancang. Konsep tuas tidak hanya bermanfaat pada permainan anak, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari sistem mekanik yang lebih kompleks.

Pada jungkat-jungkit terdapat sebuah papan panjang yang bertumpu pada poros di bagian tengah. Titik tersebut disebut titik tumpu, sedangkan kedua ujung papan menjadi tempat gaya atau beban bekerja. Ketika salah satu sisi ditekan ke bawah oleh pemain, sisi lainnya akan terangkat.

Gerakan naik dan turun ini terjadi karena adanya momen gaya (torsi), yaitu hasil perkalian antara besar gaya dengan jarak gaya terhadap titik tumpu. Semakin besar gaya atau semakin jauh posisi seseorang dari titik tumpu, semakin besar pula momen gaya yang dihasilkan.

Agar jungkat-jungkit dapat bergerak dengan seimbang, momen gaya pada kedua sisi harus sama. Itulah sebabnya anak yang memiliki berat badan lebih ringan biasanya perlu duduk lebih jauh dari titik tumpu, sedangkan anak yang lebih berat duduk lebih dekat ke tengah. Dengan cara tersebut, kedua sisi menghasilkan momen gaya yang hampir sama sehingga papan dapat bergerak secara seimbang. Fenomena ini menunjukkan bahwa keseimbangan tidak hanya ditentukan oleh berat badan, tetapi juga oleh jarak terhadap titik tumpu.

Selain menjadi media pembelajaran fisika, jungkat-jungkit juga melatih kemampuan bekerja sama. Dua pemain harus saling menyesuaikan posisi dan ritme gerakan agar permainan berlangsung nyaman. Anak-anak belajar memahami hubungan sebab-akibat, seperti mengapa posisi duduk memengaruhi keseimbangan atau mengapa papan tidak dapat bergerak jika hanya satu sisi yang diberi gaya. Pengalaman langsung seperti ini membantu memperkuat pemahaman konsep pengungkit dibandingkan hanya mempelajarinya melalui teori.

Dari sudut pandang pendidikan, jungkat-jungkit merupakan contoh sederhana bahwa ilmu fisika hadir dalam kehidupan sehari-hari. Melalui permainan ini, konsep gaya, titik tumpu, lengan kuasa, lengan beban, serta keseimbangan momen dapat diamati secara nyata. Oleh karena itu, jungkat-jungkit tidak hanya berfungsi sebagai sarana rekreasi, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang efektif untuk mengenalkan prinsip-prinsip dasar mekanika kepada anak sejak usia dini. (Nuri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....