Peluang Baterai Kendaraan Listrik Bisa di Daur Ulang

  • 30 Jun 2026 23:33 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pemerintah Indonesia membuka kesempatan mendatangkan insentif khusus untuk industri daur ulang baterai transportasi listrik. Langkah ini tengah dikaji sebagai pelengkap pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, mengingat regulasi dan dukungan kebijakan untuk pengelolaan baterai bekas masih dalam tahap pengembangan.

Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilirisasi Kementerian BKPM RI, Ahmad Faisal Suralaga, mengatakan fokus pemerintah saat ini masih mendorong investasi di sektor hulu hingga manufaktur kendaraan listrik melalui berbagai insentif fiskal. Namun, seiring meningkatnya populasi kendaraan listrik di Indonesia, kebutuhan akan kebijakan yang mengatur pengelolaan baterai di akhir masa pakainya mulai menjadi perhatian.

Menurut Faisal, sejumlah negara bahkan telah memperhitungkan siklus hidup baterai sejak awal pengembangan industri kendaraan listrik. Dengan begitu, pemerintah dapat menyiapkan skema pengelolaan baterai bekas ketika jumlahnya mulai meningkat.

Ia menjelaskan, insentif yang tersedia saat ini masih berupa tax holiday dan tax allowance yang ditujukan untuk menarik investasi di sektor kendaraan listrik. Skema tersebut dinilai masih berfokus pada pengembangan industri awal dan belum secara spesifik menyasar sektor daur ulang baterai.

Karena itu, pemerintah membuka peluang menghadirkan insentif baru yang lebih terarah untuk mendukung industri tersebut. Menurut Faisal, langkah tersebut penting agar biaya daur ulang dapat bersaing dengan biaya produksi baterai baru.

Mengutip dari www.kumparan.com, ke depannya, pemerintah Indonesia membuka peluang untuk menghadirkan insentif baru yang lebih spesifik guna mendukung industri daur ulang. Langkah ini dinilai penting agar biaya daur ulang bisa bersaing dengan produksi baterai baru.

Faisal menambahkan, daya saing industri daur ulang akan sangat bergantung pada efisiensi biaya dan dukungan kebijakan pemerintah. Apabila biaya daur ulang dapat ditekan hingga setara atau bahkan lebih rendah dibandingkan memproduksi baterai baru, industri tersebut dinilai memiliki peluang berkembang lebih cepat di Indonesia. (Rifqi Nadhif)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....