Fakta Unik Kapur Barus yang Jarang Diketahui

  • 30 Jun 2026 14:57 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kapur barus merupakan benda yang sangat akrab di masyarakat Indonesia. Bahan ini sering ditempatkan di lemari pakaian, kamar mandi, maupun gudang untuk mengusir serangga dan mengurangi bau tidak sedap.

Kapur barus bukan sekadar pengharum lemari atau pengusir serangga. Berdasarkan jurnal Bioedukasi (2025) karya Tanjung, R. A. dan kawan, di balik bentuknya yang kecil dan aromanya yang khas, kapur barus menyimpan berbagai fakta menarik yang jarang diketahui.

1. Kapur Barus Berasal dari Pohon Asli Indonesia

Banyak orang mengira kapur barus hanya merupakan produk kimia pabrikan. Padahal, kapur barus asli berasal dari pohon Dryobalanops aromatica yang tumbuh di Sumatra. Daerah Barus di Sumatra Utara sejak dahulu terkenal sebagai penghasil kapur barus alami yang bernilai tinggi.

2. Pernah Menjadi Komoditas Perdagangan Dunia

Jauh sebelum rempah-rempah Indonesia terkenal, kapur barus telah diperdagangkan hingga ke Timur Tengah dan Asia Timur. Aroma khasnya membuat bahan ini digunakan sebagai wewangian, bahan pengobatan tradisional, hingga kebutuhan ritual keagamaan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa perdagangan kapur barus dari wilayah Sumatra telah berlangsung sejak berabad-abad lalu dan menjadi salah satu komoditas bernilai tinggi.

3. Kapur Barus Dapat Menguap Tanpa Meleleh

Salah satu fakta paling unik adalah kapur barus dapat berubah langsung dari bentuk padat menjadi gas tanpa melewati fase cair. Proses ini disebut sublimasi. Karena itulah ukuran kapur barus akan semakin mengecil meskipun tidak terkena air atau panas secara langsung. Aroma khas yang tercium di ruangan sebenarnya berasal dari uap kapur barus yang menyebar ke udara.

4. Aromanya Tidak Disukai Serangga

Kapur barus banyak digunakan di lemari pakaian karena aromanya mampu mengganggu beberapa jenis serangga. Bau yang kuat membuat serangga tertentu enggan mendekat sehingga pakaian menjadi lebih terlindungi. Campuran kapur barus dapat membantu mengurangi kepadatan lalat karena aroma yang dihasilkan mengganggu sistem penciuman serangga.

5. Tidak Semua Kapur Barus Berasal dari Bahan Alami

Produk kapur barus yang dijual di pasaran saat ini sebagian besar dibuat secara sintetis. Bahan aktif yang digunakan dapat berupa naftalena atau paradiklorobenzena. Sementara itu, kapur barus alami yang berasal dari pohon Dryobalanops aromatica jumlahnya semakin terbatas sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Eksploitasi yang berlangsung selama ratusan tahun menyebabkan pohon kapur barus asli semakin sulit ditemukan. Upaya konservasi dan budidaya menjadi sangat penting agar tanaman ini tetap lestari.

6. Memiliki Nilai Budaya yang Tinggi

Di beberapa daerah, kapur barus tidak hanya dipakai sebagai pengharum ruangan. Bahan ini juga digunakan dalam tradisi tertentu, pengobatan tradisional, hingga kegiatan ritual. Pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan kapur barus menjadi bagian penting dari warisan budaya yang perlu dilestarikan. (Nuri)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....