Industri Teknologi Masih Dibayangi Krisis RAM Global
- 30 Jun 2026 00:12 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Industri teknologi diperkirakan masih akan menghadapi tekanan harga memori atau RAM dalam beberapa tahun ke depan. Produsen komputer Lenovo bahkan memperkirakan harga RAM tidak akan kembali ke level sebelum krisis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Dilansir dari techradar, dalam konferensi ISC 2026 di Jerman, Lenovo menyampaikan bahwa industri memori kemungkinan memasuki kondisi normal baru dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelum krisis. Kondisi tersebut diperkirakan dapat berlangsung hingga awal dekade 2030-an.
| Baca juga: CEO OpenAI Tepis Tudingan AI Boros Air |
Kenaikan harga RAM dipicu oleh tingginya permintaan industri terhadap komponen memori dan penyimpanan. Kebutuhan tersebut terutama berasal dari pengembangan kecerdasan buatan (AI), pusat data, serta komputasi berkinerja tinggi.
Microsoft juga mengonfirmasi dampak krisis tersebut melalui kenaikan harga konsol Xbox. Perusahaan menyebut biaya memori dan media penyimpanan saat ini telah meningkat lebih dari 2,5 kali lipat dibandingkan sebelumnya dan berpotensi kembali naik hingga 2027.
Tekanan biaya yang sama turut dirasakan produsen perangkat lain, termasuk Apple. Meningkatnya kebutuhan infrastruktur AI membuat pasokan chip memori semakin ketat sehingga memengaruhi harga berbagai produk elektronik konsumen.
Di sisi lain, produsen chip memori Micron menilai tekanan harga juga dipengaruhi strategi negosiasi sejumlah pelanggan besar di masa lalu. Menurut perusahaan, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan industri untuk meningkatkan kapasitas produksi secara lebih cepat.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai harga RAM tidak bisa terus meningkat tanpa batas. Jika harga perangkat elektronik menjadi terlalu tinggi, konsumen berpotensi menunda pembelian sehingga dapat mengurangi permintaan pasar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....