Uniknya Perkembangbiakan Penyu yang Miliki Strategi Alami untuk Bertahan Hidup
- 27 Jun 2026 02:46 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Penyu merupakan salah satu reptil laut tertua di dunia yang telah hidup selama jutaan tahun. Meskipun menghabiskan sebagian besar hidupnya di lautan, proses perkembangbiakan penyu justru berlangsung di daratan. Siklus reproduksi yang unik ini menjadi salah satu alasan mengapa penyu sangat rentan terhadap perubahan lingkungan dan aktivitas manusia.
Brdasarkan BIOEDUSAINS Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains (2022) berjudul ‘Karakteristik dan Preferensi Habitat Penyu dalam Membuat Sarang Alami untuk Peneluran’ mengkaji karakteristik sarang dan habitat peneluran penyu di Indonesia. Ada keunikan tentang perkmbangbiakan penyu yang perlu diketahui.
1. Penyu Kembali ke Pantai Tempat Ia Menetas
Salah satu fakta paling menarik adalah kemampuan penyu betina kembali ke pantai tempat kelahirannya untuk bertelur. Fenomena ini dikenal sebagai natal homing. Setelah menghabiskan puluhan tahun di lautan, penyu dewasa mampu menemukan lokasi asalnya dengan bantuan medan magnet bumi. Kemampuan navigasi tersebut membuat beberapa pantai menjadi lokasi peneluran yang digunakan secara turun-temurun oleh generasi penyu.
2. Penyu Bertelur pada Malam Hari
Sebagian besar penyu memilih naik ke pantai pada malam hari. Kondisi yang lebih gelap dan sejuk membantu mengurangi risiko predator serta menghindari suhu pasir yang terlalu tinggi. Penyu akan menggali lubang menggunakan sirip belakangnya sebelum meletakkan telur di dalam sarang. Setelah selesai, sarang akan ditutup kembali dengan pasir agar sulit ditemukan predator.
3. Satu Induk Dapat Menghasilkan Ratusan Telur
Seekor penyu betina dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan telur dalam satu kali peneluran. Bahkan dalam satu musim bertelur, seekor induk dapat mendarat beberapa kali. Jumlah telur yang banyak merupakan strategi alami untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup keturunan, karena hanya sebagian kecil tukik yang mampu bertahan hingga dewasa.
Walaupun seekor induk menghasilkan banyak telur, tidak semuanya berhasil menjadi tukik. Faktor seperti kelembapan pasir, suhu, gangguan predator, hingga aktivitas manusia dapat memengaruhi tingkat keberhasilan penetasan.
4. Suhu Pasir Menentukan Jenis Kelamin Tukik
Fakta unik lainnya adalah jenis kelamin tukik dipengaruhi oleh suhu sarang. Suhu pasir yang lebih tinggi cenderung menghasilkan lebih banyak tukik betina, sedangkan suhu yang lebih rendah menghasilkan lebih banyak tukik jantan. Karena itu, perubahan iklim dan kenaikan suhu pantai dapat memengaruhi keseimbangan populasi penyu di masa depan.
5. Penyu Sangat Selektif Memilih Lokasi Sarang
Penyu memilih pantai dengan karakteristik tertentu, seperti kemiringan pantai yang sesuai, kelembapan tinggi, serta suhu sekitar 28–30°C. Vegetasi pantai juga berperan penting dalam memberikan perlindungan bagi sarang. Keberadaan pandan laut, cemara pantai, dan tumbuhan pesisir lainnya membantu menjaga kondisi lingkungan sarang agar tetap stabil.
6. Tukik Langsung Mandiri Setelah Menetas
Tidak seperti mamalia yang diasuh induknya, tukik yang baru menetas harus bertahan hidup sendiri. Setelah keluar dari sarang, tukik bergerak menuju laut dengan mengikuti cahaya alami. Perjalanan singkat menuju laut menjadi fase paling berbahaya karena tukik rentan dimangsa burung, kepiting, maupun predator lainnya. (Nuri)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....