Studi Kaspersky Ungkap Maraknya Kekerasan Berbasis Teknologi
- 30 Mei 2026 21:51 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Perusahaan keamanan siber Kaspersky melaporkan bahwa 45,7 persen responden dalam studi globalnya mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan berbasis teknologi dalam 12 bulan terakhir. Namun, hanya 32 persen responden yang mengaku memahami arti istilah tersebut.
Dilansir dari kaspersky.com, kekerasan berbasis teknologi atau tech-enabled abuse merujuk pada tindakan merugikan yang dilakukan melalui perangkat digital seperti ponsel pintar, media sosial, maupun platform daring. Bentuknya beragam, mulai dari pelecehan online, penguntitan digital, penyamaran identitas, hingga pemantauan tanpa izin.
Menurut hasil penelitian, banyak korban tidak menyadari bahwa pengalaman yang mereka alami termasuk dalam kategori kekerasan berbasis teknologi. Akibatnya, berbagai tindakan tersebut sering dianggap sebagai hal biasa dan tidak dilaporkan.
Kaspersky menemukan bahwa korban umumnya mengalami lebih dari satu jenis perlakuan merugikan. Secara rata-rata, setiap korban mengalami 2,7 bentuk kekerasan digital yang berbeda dalam kurun waktu setahun.
Jenis ancaman yang paling sering dilaporkan adalah pemblokiran atau pengucilan secara sengaja untuk menyakiti seseorang dengan persentase 16,7 persen. Sementara itu, 15,1 persen responden mengaku menerima pesan kasar atau menyinggung melalui platform digital.
Studi tersebut juga mengungkap bahwa 8,5 persen responden pernah mengalami penguntitan digital atau cyberstalking. Selain itu, 5,4 persen responden mengaku pernah menjadi korban doxxing, yaitu penyebaran informasi pribadi tanpa izin.
Kaspersky turut menyoroti meningkatnya ancaman stalkerware, yaitu perangkat lunak yang memungkinkan seseorang memata-matai aktivitas korban melalui ponsel secara diam-diam. Sepanjang 2024 hingga 2025, lebih dari 34.000 pengguna di dunia dilaporkan terdampak stalkerware.
Perusahaan itu mencatat korban stalkerware ditemukan di lebih dari 160 negara. Rusia, Brasil, dan India menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi pada 2025, sementara Kaspersky juga menemukan 33 keluarga baru stalkerware yang sebelumnya belum pernah teridentifikasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....