Fakta Ilmiah Ketindihan ternyata Bukan Gangguan Makhluk Halus

  • 23 Apr 2026 11:05 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Ketindihan atau bahasa ilmiahnya sleep paralysis merupakan fenomena gangguan tidur yang cukup umum terjadi di masyarakat. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai pengalaman mistis, padahal secara ilmiah dapat dijelaskan melalui mekanisme neurofisiologis tubuh manusia.

Sleep paralysis dikategorikan sebagai parasomnia, yaitu gangguan tidur yang terjadi pada transisi antara tidur dan bangun. Halusinasi yang muncul bukanlah pengalaman supranatural, melainkan bagian dari mimpi yang terbawa ke kondisi sadar akibat ketidakseimbangan fase tidur.

Berdasarkan Flourishing Journal Universitas Negeri Malang (2023), sleep paralysis adalah kondisi ketika seseorang sadar tetapi tidak mampu menggerakkan tubuh atau berbicara saat bangun atau menjelang tidur. Kondisi ini sering disertai sensasi tekanan pada dada, sesak napas, serta halusinasi visual maupun auditori yang terasa nyata.

Fenomena ini terjadi karena tubuh masih berada dalam fase tidur REM (Rapid Eye Movement), yaitu fase ketika otot mengalami atonia (kelumpuhan sementara) untuk mencegah tubuh bergerak saat bermimpi. Secara ilmiah, sleep paralysis bukanlah kondisi supranatural, melainkan hasil dari ketidaksinkronan antara kesadaran otak dan sistem motorik tubuh.

Sleep paralysis dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, terutama kondisi psikologis dan kualitas tidur. Stres merupakan salah satu faktor dominan yang berhubungan dengan meningkatnya kejadian sleep paralysis.

Selain itu, kecemasan juga terbukti memiliki hubungan dengan kejadian sleep paralysis, di mana individu yang memiliki tingkat kecemasan tinggi lebih rentan mengalami kondisi ini. Faktor lain yang berperan adalah kurang tidur dan kualitas tidur yang buruk.

Gangguan pola tidur, khususnya kurang tidur, dapat memicu terjadinya sleep paralysis karena mengganggu siklus tidur normal. Selain itu, kelelahan fisik dan tekanan juga menjadi pemicunya.

Sleep paralysis tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga erat kaitannya dengan kondisi mental seseorang. Individu dengan tingkat stres dan kecemasan tinggi cenderung mengalami gangguan tidur termasuk sleep paralysis. Namun, tidak semua bentuk kecemasan memiliki hubungan langsung, hal ini menunjukkan bahwa sleep paralysis merupakan fenomena multifaktor yang dipengaruhi oleh kombinasi kondisi biologis, psikologis, dan lingkungan.

Ketindihan umumnya tidak berbahaya secara fisik, tetapi dapat menimbulkan dampak psikologis seperti rasa takut, cemas, dan gangguan tidur berulang. Jika terjadi secara sering, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup seseorang.

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan antara lain menjaga pola tidur yang teratur, mengurangi stres dan kecemasan, menghindari kelelahan berlebihan, dan meningkatkan kualitas tidur. Edukasi tentang sleep paralysis juga penting untuk mengurangi kesalahpahaman agar masyarakat tidak salah menafsirkan terhadap fenomena ini. (Nuri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....