Sekolah Inklusif, Menjawab Tantangan Pendidikan Masyarakat Rentan
- 04 Feb 2026 17:58 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Akses pendidikan bagi masyarakat inklusif masih menjadi tantangan serius di Indonesia, termasuk di Kota Surakarta. Dalam “Obrolan Astacita” Pro 4 RRI Surakarta, Selasa 3 Februari 2026, praktisi pendidikan Bukik Setiawan mengungkapkan masih terdapat sekitar 7 persen anak Indonesia yang tidak bersekolah atau putus sekolah, meskipun anggaran pendidikan nasional tergolong besar.
“Masyarakat rentan dalam pendidikan setidaknya terbagi tiga, yaitu anak dari keluarga miskin, anak berkebutuhan khusus, dan anak dari orang tua dengan aspirasi pendidikan yang berbeda,” ujar Bukik.
Ketiganya memiliki risiko yang sama, yakni kesulitan menyelesaikan pendidikan secara berkelanjutan. Menurutnya, faktor ekonomi menjadi penyebab utama anak dari keluarga miskin rentan putus sekolah, terutama di jenjang SMP dan SMA.
“Godaan untuk segera bekerja dan membantu orang tua jauh lebih besar dibandingkan melanjutkan sekolah,” ucapnya.
Selain itu, anak berkebutuhan khusus juga masih menghadapi keterbatasan layanan pendidikan inklusi. Meski regulasi sudah mengatur kewajiban sekolah negeri menyediakan layanan tersebut, kapasitas dan kesiapan sekolah di lapangan dinilai belum memadai.
Kelompok rentan lain yang kerap luput dari perhatian adalah anak-anak dari orang tua profesional dan pelaku industri kreatif.
“Aspirasi mereka sering tidak kompatibel dengan pendidikan formal yang terlalu akademis, sehingga sebagian orang tua memilih jalur alternatif,” kata Bukik.
Salah satu upaya menjawab tantangan tersebut adalah kehadiran sekolah-sekolah inklusif di Surakarta. Sekolah yang memiliki pendidikan kontekstual sesuai karakter kebutuhan masyarakat rentan, dengan tetap mengacu pada kurikulum nasional akan menjawab kebutuhan pendidikan masyarakat yang rentan
“Kami menggunakan pembelajaran berbasis riset, anak belajar dari persoalan nyata di sekitarnya, bukan hanya dari buku teks,” ujar Bukik.
Dikatakan, anak-anak didorong melakukan observasi lapangan, wawancara, hingga presentasi hasil riset untuk melatih berpikir kritis dan percaya diri.
Tak hanya melibatkan siswa, sekolah- sekolah inklusif juga dapat mengajak orang tua terlibat aktif dalam proses belajar. Mulai dari mendampingi membaca, menyediakan makan siang bergilir, hingga menjadi fasilitator pembelajaran di rumah masing-masing.
Menutup dialog, Bukik menegaskan pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. “Perlu kolaborasi semua pihak agar setiap anak, termasuk masyarakat rentan, bisa menikmati pendidikan yang bermakna dan sesuai kebutuhannya,” katanya. (Hil)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....