Plastik Ramah Lingkungan dari DNA Salmon

  • 20 Jan 2026 20:47 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Plastik konvensional sangat merugikan lingkungan karena berasal dari sumber minyak bumi yang tidak dapat diperbarui. Menurut informasi dari @sainspopid, plastik ini tidak hanya memerlukan pemanasan yang sangat tinggi dan penggunaan bahan kimia berbahaya dalam proses pembuatannya, tetapi juga memerlukan waktu ratusan tahun untuk dapat terurai secara alami di alam.

Hanya sebagian kecil dari plastik yang kita gunakan yang memiliki kemampuan untuk didaur ulang. Sisanya akan berakhir di tempat pembuangan akhir, dibakar, atau mencemari lingkungan.

Plastik alternatif yang berasal dari tanaman seperti tepung jagung dan rumput laut semakin diminati karena bersifat terbarukan dan bisa terurai secara alami. Para peneliti di Universitas Tianjin, China, telah menciptakan plastik berkelanjutan dan terurai secara hayati menggunakan sperma ikan salmon dan minyak nabati.

Mereka mengklaim bahwa plastik yang dinamakan plastik DNA ini menghasilkan emisi karbon sebesar lima persen lebih rendah dibandingkan produksi plastik dari polistiren biasa. Para peneliti memanfaatkan untaian DNA dari sperma salmon yang diambil dengan bantuan materi genetik dan ionomer, jenis polimer yang menghasilkan gel yang fleksibel.

Bahan ini kemudian dibekukan dan dikeringkan untuk membentuk strukturnya. Percobaan tersebut mencakup pembuatan mug dan potongan puzzle, semuanya terbuat dari plastik berbasis DNA.

DNA, yang merupakan singkatan dari asam deoksiribonukleat, adalah biopolimer yang berfungsi untuk menyimpan informasi genetik dari makhluk hidup. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of American Chemical Society menunjukkan bahwa hasilnya terlihat dan terasa seperti plastik, namun menghasilkan kurang dari lima persen emisi karbon dibandingkan dengan proses pembuatan plastik polistiren biasa.

Plastik DNA adalah jenis bahan yang paling ramah lingkungan karena sering digunakan untuk menyimpan cairan. Plastik ini dihasilkan dengan menggabungkan untaian pendek DNA dan bahan kimia yang berasal dari minyak nabati, menghasilkan materi seperti gel yang lembut.

Gel tersebut dapat dicetak dalam cetakan dan kemudian dipadatkan melalui proses pengeringan beku yang menghilangkan air dari gel pada suhu rendah. Para peneliti merekomendasikan agar wadah bioplastik tersebut diperlakukan dengan bahan yang kedap air, yang bisa mengurangi kemampuannya untuk didaur ulang.

Penelitian ini dilakukan di saat para ilmuwan berupaya mencari solusi untuk mengurangi limbah plastik. Plastik ini bisa menjadi salah satu jenis plastik paling berkelanjutan yang pernah ada dan berpotensi digunakan dalam kemasan serta perangkat elektronik.

( Syurie Ariandani )

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....