Panel Surya Wujudkan Mimpi Ketahanan Pangan Ala Petani Sragen
- 08 Sep 2025 22:37 WIB
- Surakarta
KBRN, Sragen: Ide cemerlang diaplikasikan Sugimin Cokro Haryanto seorang petani sekaligus Kepala Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen untuk mewujudkan ketahanan pangan. Dia memanfaatkan teknologi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk irigasi sawahnya.
Dengan panel surya, sawah Sugimin bisa panen tiga kali setahun tanpa harus ribet mengurus pengairan sawahnya, karena air memancar gratis. Lebih dari 10 hektare lahan tadah hujan kini menjadi sawah produktif menuju kemandirian pangan lokal dengan sumur dalam menggunakan teknologi pembangkit listrik tenaga surya.
"Ide pertama itu dari anak saya, dibikin panel surya saja pak. Saya cek ternyata modalnya tidak mahal banget, akhirnya kita melakukan pengadaan," ucap Sugimin dijumpai di area sawahnya belum lama ini.
Musim kemarau yang biasa membuat petani Desa Pengkok kesulitan memenuhi kebutuhan air kini sudah tidak berlaku buat Mbah Cokro. Sugimin Cokro membeberkan inovasi PLTS untuk menggerakkan pompa air submersible sedalam 90 meter.
Energi panel surya itu menggantikan listrik PLN yang biaya operasinya tinggi dan pompa berbahan bakar elpiji yang kemampuannya terbatas.
"Awalnya memasang enam panel surya, lalu ditambah menjadi delapan panel berkapasitas total 4.400 Wp, cukup untuk mengoperasikan pompa 5,5 HP yang mampu mengairi lima hektare sawah," ujar dia.
Sistem off grid ini bekerja optimal pukul 09.00–15.00 WIB, namun pada kondisi tertentu air masih mengalir hingga pukul 17.00 WIB. Dengan biaya investasi Rp35 juta dari dana pribadi, petani dapat menghemat biaya produksi hingga 40% dan balik modal dalam sekali panen di musim tanam III.
PLTS ini juga ramah lingkungan, mudah perawatannya, dan tidak bergantung pada pasokan BBM maupun tarif listrik PLN. Teknologi ini direncanakan mengairi 20 hektare lahan bengkok desa yang sebelumnya kebun tebu, dan sejak digunakan Sugimin telah panen dua kali.
"Dulu ya panen sekali setahun karena bisanya cuma tebu. Sekarang bisa tiga kali," katanya.
Sebelumnya, petani yang bergantung pada sumur sibel PLN harus membayar Rp30.000–Rp40.000 per jam untuk pengairan yang bisa berlangsung 24 jam. Inovasi ini menjadi yang pertama di Kabupaten Sragen dan menjadikan Desa Pengkok sebagai pelopor. Banyak kepala desa dari daerah lain tertarik menerapkannya.
Camat Kedawung, Endang Widayanti, memberi dukungan penuh karena dinilai hemat, ramah lingkungan, menghasilkan debit air maksimal, serta mendukung program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....