Indonesia resmi meluncurkan prototype vaksin DBD
- 13 Jul 2026 00:07 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Indonesia secara resmi telah memperkenalkan prototipe vaksin DBD yang menggunakan teknologi mRNA. Menurut informasi dari @KemenkesRi, ini merupakan lebih dari sekadar pengembangan vaksin baru; ini adalah langkah krusial untuk mencapai kemandirian Indonesia dalam penelitian dan pengembangan vaksin.
Mengapa hal ini signifikan? Karena terdapat empat serotipe virus dengue, yang memungkinkan seseorang bisa mengalami DBD lebih dari sekali. Inovasi ini menunjukkan bahwa kerja sama dalam penelitian dapat membawa Indonesia lebih dekat ke kemandirian dalam sektor kesehatan.
Teknologi mRNA yang sebelumnya digunakan untuk menangani virus COVID-19. Kini untuk pertama kalinya digunakan dalam sejarah medis untuk melawan virus demam berdarah dengue.
Peluncuran resmi dari purwarupa Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA ini dilakukan di Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada hari Rabu 8 Juli 2026. Vaksin ini memanfaatkan bagian genetik (gen preM-E) dari strain virus dengue yang berasal dari Indonesia, hasil kolaborasi antara Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University (China), dan PT Etana Biotechnologies Indonesia.
Momen ini menjadi pencapaian penting untuk kemandirian industri vaksin dalam negeri. Jika berhasil, vaksin ini akan menjadi yang pertama di dunia menggunakan mRNA untuk penyakit demam berdarah dan menjadi antigen keenam yang bisa diproduksi secara lokal dari awal hingga akhir.
Inisiatif untuk mempercepat pengembangan ini muncul sebagai pelajaran dari masa pandemi COVID-19, ketika Indonesia tidak bisa mengakses berbagai kebutuhan medis mendesak seperti vaksin, alat terapi, dan diagnostik. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa antara tahun 2020 hingga 2022, pemerintah berkomitmen untuk membangun fasilitas penelitian sendiri. Dari hanya satu perusahaan vaksin sebelumnya, kini Indonesia memiliki empat, yaitu Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio.
Dari 16 jenis antigen yang diperlukan untuk program imunisasi nasional, saat ini baru ada 11 antigen yang dapat diproduksi secara lokal, di mana lima di antaranya dapat diproduksi secara mandiri dari tahap penelitian, pembuatan bibit vaksin, hingga manufaktur. Sementara itu, enam antigen lainnya masih dalam tahap perakitan atau formulasi akhir karena bahan bakunya masih harus diimpor dari China dan India.
Pemilihan dengue sebagai salah satu fokus utama didasarkan pada jumlah kasus yang tinggi di Indonesia. Data dari Kemenkes menunjukkan bahwa setiap tahun ada sekitar 151 ribu kasus dengue, dengan 650 kematian. Angka ini menjadikan dengue di antara penyakit dengan beban tinggi, bersaing dengan TBC (1 juta kasus, 125 ribu kematian), HIV (570 ribu kasus, 25 ribu kematian), dan malaria (520 ribu kasus, 132 kematian).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....