Penyakit Hati Kronis Ancam 70 Juta Penduduk Indonesia, Deteksi Dini Jadi Kunci

  • 06 Jun 2026 07:45 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Penyakit hati kronis menjadi ancaman kesehatan serius di Indonesia karena kerap berkembang tanpa gejala yang jelas. Kondisi ini membuat banyak penderita baru mengetahui penyakitnya ketika sudah memasuki stadium lanjut, seperti sirosis atau kanker hati.

Dikutip dari Kementerian Kesehatan RI, penyakit hati kronis sering dijuluki sebagai silent killer karena berkembang secara progresif tanpa menimbulkan tanda-tanda yang mudah dikenali. Kerusakan hati umumnya baru disadari ketika telah terjadi komplikasi yang berat.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan penyakit hati merupakan masalah kesehatan yang memiliki prevalensi tinggi di Indonesia. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini harus menjadi prioritas.

“Penyakit hati kronis memiliki prevalensi yang tinggi. Karena itu kita harus memperkuat strategi promotif dan preventif. Kerja di area pencegahan jauh lebih murah dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan pengobatan pada tahap lanjut,” kata Menkes Budi dalam forum Healthy Liver Awareness for Indonesia bertajuk Bicara Tentang Hati: Solid Habit, Strong Liver di Aula Siwabessy, Gedung Prof. Dr. Sujudi, Jakarta, Selasa (2/6).

Di Indonesia, diperkirakan sekitar 70 juta penduduk hidup dengan penyakit hati kronis. Sementara secara global, penyakit ini menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahun. Lebih dari separuh kematian tersebut berkaitan dengan infeksi Hepatitis B dan Hepatitis C yang sering kali tidak terdeteksi hingga memasuki stadium lanjut.

Menurut Menkes, deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah penyakit berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Namun, cakupan skrining hepatitis di Indonesia saat ini diperkirakan baru mencapai sekitar 10 persen. Angka tersebut masih jauh dari target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menargetkan 90 persen kasus hepatitis terdeteksi dan 80 persen penderitanya mendapatkan pengobatan.

Untuk meningkatkan deteksi dini, pemerintah menyediakan layanan skrining kesehatan hati melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat mengetahui risiko penyakit hati lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat.

Pada peringatan Liver Day, Menkes juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan hati dengan menerapkan pola hidup sehat, melengkapi imunisasi Hepatitis B, serta memanfaatkan layanan CKG secara rutin.

Selain memperluas deteksi dini, pemerintah terus memperkuat upaya pencegahan melalui imunisasi Hepatitis B bagi tenaga kesehatan, pemberian profilaksis antivirus kepada ibu hamil yang terinfeksi Hepatitis B untuk mencegah penularan kepada bayi, serta penerapan kebijakan Nutri-Level mulai 2026 guna membantu masyarakat mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak yang menjadi faktor risiko penyakit hati akibat gangguan metabolik. (Ria)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....