Bahaya dan Pencegahan Hantavirus
- 11 Mei 2026 18:35 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Belakangan ini, banyak dibicarakan tentang Hantavirus tipe HPS yang menyerang paru-paru setelah terjadinya laporan kematian di kapal pesiar internasional. Menurut @kemenkesRi, meskipun WHO mengindikasikan risiko penyebaran secara global masih rendah, kewaspadaan tetap harus dijaga.
Hantavirus adalah virus yang dapat menyebabkan gangguan pada ginjal, pembuluh darah, dan paru-paru. Penyakit yang disebabkan oleh hantavirus umumnya ditularkan melalui tikus atau hewan pengerat lainnya.
Gejala awal dari penyakit hantavirus mirip dengan flu dan dapat berkembang menjadi lebih serius. Kondisi ini dapat menyebabkan masalah pada paru-paru dan jantung serta berpotensi mengancam nyawa. Penyakit ini sering juga disebut sebagai sindrom kardiopulmoner hantavirus.
Infeksi biasanya terjadi ketika seseorang menghirup virus dari urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Mengingat pilihan pengobatan yang terbatas, cara terbaik untuk melindungi diri dari virus ini adalah dengan menghindari kontak dengan hewan pengerat dan membersihkan area tempat tinggal hewan tersebut dengan aman.
Hantavirus menjadi tantangan bagi kesehatan masyarakat karena sulit dideteksi pada tahap awal. Gejala yang muncul pada awalnya mirip dengan flu biasa, sehingga sering kali penanganan terlambat.
Tingkat kematian akibat HPS di Amerika berkisar antara 38-50%, sementara HFRS bervariasi antara 1-15%. Meskipun kasus globalnya relatif sedikit (hanya ribuan per tahun), dampak bagi yang terinfeksi sangatlah serius.
Penyebaran virus ini lebih mudah terjadi pada musim hujan atau saat banjir, karena tikus sering mencari tempat tinggal di rumah-rumah. Di kawasan pedesaan, hutan, atau tempat penyimpanan barang yang jarang dibersihkan, risikonya lebih tinggi. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang cara aman membersihkan kotoran tikus juga memperburuk keadaan.
Saat ini, belum ada obat antiviral khusus atau vaksin untuk hantavirus. Penanganan yang dilakukan bersifat suportif, yang bertujuan untuk membantu tubuh pasien melawan virus sendiri.
Perawatan awal mencakup istirahat, pemberian cairan, dan obat untuk mengurangi gejala. Kasus yang parah memerlukan perawatan di unit perawatan intensif, pemberian oksigen, ventilator, atau bahkan ECMO (alat bantu jantung dan paru) untuk HPS.
Pemantauan ketat tekanan darah, cairan tubuh, dan fungsi ginjal sangat penting untuk HFRS. Semakin cepat pasien mendapatkan perawatan medis, semakin besar kemungkinan untuk sembuh.
Proses pemulihan total membutuhkan waktu dari beberapa minggu hingga berbulan-bulan, dan ada kemungkinan munculnya kelelahan jangka panjang. Di Indonesia, sejauh ini kasus Hantavirus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS yang menyerang ginjal, dengan total 23 kasus yang dikonfirmasi di 9 provinsi.
Oleh karena itu, sangat penting untuk terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menjaga kebersihan lingkungan. Mulai dari menyimpan makanan dengan rapat, menutup kemungkinan akses masuk tikus, hingga membersihkan debu dengan kain basah agar partikel virus tidak menyebar. Apabila mengalami demam tinggi, nyeri otot, atau sakit kepala setelah berada di daerah yang berisiko tinggi terkait tikus, segera lakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat.
( Syurie Ariandani )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....