AC Disetel 16 Derajat Bikin BBM Boros? Ini Faktanya!

  • 22 Sep 2026 13:25 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Banyak pengemudi percaya bahwa semakin rendah suhu yang dipilih pada AC mobil, semakin besar pula konsumsi bahan bakarnya. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa disederhanakan hanya berdasarkan angka suhu pada panel AC. Ada beberapa faktor yang menentukan seberapa berat kerja sistem AC dan seberapa besar pengaruhnya terhadap mesin.

Pada mobil dengan AC konvensional, ketika pengemudi mengatur suhu sangat rendah, sistem akan berusaha mempertahankan kabin tetap dingin. Kompresor AC bekerja dengan memanfaatkan tenaga mesin melalui belt, sehingga ketika kompresor aktif, mesin mendapatkan tambahan beban. Semakin sering kompresor harus bekerja, secara teori energi yang dibutuhkan juga semakin besar dan dapat berpengaruh terhadap konsumsi BBM.

Namun, bukan berarti mengatur AC pada suhu 16 derajat Celsius pasti jauh lebih boros dibandingkan 24 derajat Celcius. Pada banyak mobil modern, sistem AC sudah dilengkapi pengaturan otomatis yang akan mengatur kerja kompresor sesuai kondisi temperatur kabin. Setelah suhu kabin mendekati target, sistem dapat mengurangi atau menghentikan sementara kerja kompresor sehingga bebannya tidak selalu maksimal.

Hal yang lebih berpengaruh adalah beban pendinginan yang harus ditanggung AC. Saat mobil terparkir di bawah terik matahari, temperatur kabin bisa sangat tinggi sehingga AC harus bekerja lebih keras untuk menurunkannya. Kondisi kaca, penggunaan kaca film, jumlah penumpang, kelembapan udara, hingga kondisi sistem AC juga ikut menentukan. Karena itu, konsumsi BBM tidak hanya ditentukan oleh angka suhu yang dipilih.

Meski demikian, kebiasaan mengatur AC pada suhu paling rendah lalu membiarkannya bekerja terus-menerus memang kurang ideal jika tidak diperlukan. Pengemudi dapat menggunakan suhu yang tetap nyaman, misalnya sekitar 22–24 derajat Celsius, terutama pada sistem climate control. Setelah kabin terasa sejuk, penggunaan mode sirkulasi udara dalam kabin juga dapat membantu AC mempertahankan temperatur tanpa harus terus-menerus mendinginkan udara panas dari luar.

Pengaruh AC terhadap konsumsi BBM juga berbeda antara satu mobil dengan mobil lainnya. Kapasitas mesin, efisiensi kompresor, teknologi climate control, kondisi mesin, serta kecepatan kendaraan semuanya memiliki peran. Pada perjalanan kecepatan tinggi, hambatan angin dapat menjadi faktor konsumsi BBM yang lebih dominan, sedangkan pada kondisi macet atau idle, beban kompresor AC relatif lebih terasa terhadap kerja mesin.

Ko Lung Lung Founder Dokter Mobil Indonesia berpendapat sebenarnya bukan diakibatkan suhu setelan suhunya, akan tetapi berapa temperatur suhu luar yang turut mempengaruhi. Ketika suhu AC di setting paling rendah maka kompresor AC akan push hingga mencapai suhu tersebut, secara otomatis ketika suhu luar memang terlampau panas (matahari terik) maka kompresor AC akan bekerja lebih lama dibandingkan ketika suhu luar sedang lebih dingin. Selain suhu luar ada 3 faktor yang turut mempengaruhi pula mulai dari oli kompresor AC yang digunakan, pendinginan atau heat transfer mesin, dan coolant yang digunakan untuk mendinginkan engine.

(Ihsan Ramadhana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....