Pendaki Pemula Perlu Pahami Istilah Dasar sebelum Naik Gunung
- 20 Sep 2026 11:47 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Tren pendakian gunung yang semakin populer mendorong banyak orang, termasuk pemula, untuk menjelajahi alam dan menikmati pemandangan dari ketinggian. Pemahaman istilah dasar pendakian dinilai penting agar pendaki dapat berkomunikasi, mempersiapkan perjalanan, dan menjaga keselamatan selama berada di jalur.
Mengutip website Basarnas.go.id, salah satu istilah yang perlu dipahami adalah basecamp, yakni tempat awal pendaki berkumpul untuk memeriksa perlengkapan, beristirahat, dan berkoordinasi sebelum memulai perjalanan. Selain itu, pendaki juga perlu mengetahui Simaksi atau Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi sebagai bagian dari proses registrasi sebelum memasuki kawasan konservasi tertentu.
Istilah lain yang umum digunakan adalah hiking dan trekking, yang sama-sama merujuk pada aktivitas berjalan kaki di alam, tetapi memiliki penggunaan yang berbeda dalam konteks pendakian. Sementara itu, mountaineering merupakan kegiatan pendakian yang dapat melibatkan teknik khusus, navigasi medan, penggunaan peralatan keselamatan, serta kemampuan menghadapi kondisi lingkungan yang lebih ekstrem.
Dalam perjalanan menuju puncak, pendaki juga mengenal istilah summit attack, yaitu tahapan pendakian dari area perkemahan terakhir menuju puncak yang umumnya dilakukan pada dini hari. Pendaki biasanya memilih waktu tersebut untuk mengejar matahari terbit sekaligus mempertimbangkan kondisi cuaca di kawasan puncak.
Bagi pendaki yang tidak bermalam, istilah tektok digunakan untuk menyebut kegiatan naik dan turun gunung dalam satu hari. "Tektok membutuhkan kondisi fisik yang baik karena pendaki harus menyelesaikan perjalanan tanpa waktu bermalam untuk memulihkan tenaga," demikian penjelasan yang umum digunakan dalam aktivitas pendakian.
Istilah porter juga penting diketahui, yaitu orang yang membantu membawa perlengkapan pendaki sepanjang perjalanan dan umumnya berasal dari masyarakat sekitar kawasan gunung. Penggunaan jasa porter selain membantu mengurangi beban bawaan juga dapat menjadi bentuk dukungan terhadap perekonomian masyarakat lokal.
Dari sisi keselamatan, pendaki perlu memahami aklimatisasi, yaitu proses penyesuaian tubuh terhadap kondisi lingkungan di ketinggian, serta mengenali risiko mountain sickness. "Pendaki perlu memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi terhadap perubahan ketinggian dan tidak memaksakan diri ketika mulai mengalami keluhan," demikian prinsip keselamatan yang perlu diperhatikan saat berada di kawasan pegunungan.
Istilah lain yang tidak kalah penting adalah hipo atau hipotermia, yakni kondisi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk mempertahankan suhu normal. Dengan memahami istilah dasar, mempersiapkan kondisi fisik dan perlengkapan, serta mematuhi ketentuan pengelola kawasan, pendaki pemula dapat mengurangi risiko dan menjalani aktivitas di gunung secara lebih aman. (Husni Abrar-Magang/Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....