Bagaimana Selera Musik Dapat Mengungkap Kepribadian?

  • 26 Agt 2026 09:11 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID Surakarta - Musik merupakan bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari karena hampir setiap orang memiliki lagu, penyanyi, atau genre yang menjadi favoritnya. Ada yang merasa lebih nyaman mendengarkan lagu pop, sementara yang lain menikmati musik rock, jazz, dangdut, klasik, atau lagu-lagu bernuansa melankolis. Pilihan tersebut sering kali bukan sekadar soal bunyi yang enak didengar, tetapi juga berkaitan dengan emosi, pengalaman, dan cara seseorang mengekspresikan dirinya. Psikologi sendiri mempelajari pikiran, perasaan, serta perilaku manusia, termasuk bagaimana seseorang merespons berbagai hal di lingkungan sekitarnya. Alodokter – Psikologi dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari Dengan demikian, selera musik dapat menjadi salah satu jendela kecil untuk memahami karakter seseorang, meskipun tidak bisa digunakan sebagai alat untuk menentukan kepribadian secara mutlak.

Orang yang menyukai musik dengan karakter berbeda dapat memiliki kecenderungan kepribadian yang berbeda pula, tetapi hubungan tersebut tidak sesederhana “suka genre tertentu berarti memiliki sifat tertentu”. Dalam teori Big Five, kepribadian manusia terdiri dari lima dimensi utama, yaitu openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan neuroticism. Alodokter – Mengenal Tipe Kepribadian dalam Teori Big Five Personality Seseorang yang terbuka terhadap pengalaman baru, misalnya, mungkin lebih tertarik mengeksplorasi berbagai jenis musik dibandingkan hanya mendengarkan satu genre sepanjang waktu. Namun, seseorang juga dapat menyukai musik tertentu karena pengaruh keluarga, teman, lingkungan sosial, tren, atau pengalaman hidup. Artinya, musik dapat memberikan petunjuk mengenai diri seseorang, tetapi tidak cukup untuk menjadi “tes kepribadian” yang berdiri sendiri.

Menariknya, musik sering kali menjadi cermin dari kondisi emosional seseorang pada waktu tertentu. Ketika sedang bahagia, seseorang mungkin memilih lagu dengan tempo cepat dan suasana ceria, sedangkan ketika sedang sedih, lagu dengan lirik yang melankolis bisa terasa lebih sesuai dengan perasaannya. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Alodokter bahwa aktivitas bernyanyi dan musik berkaitan dengan kondisi psikologis serta dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan emosi. Alodokter – Manfaat Bernyanyi bagi Kesehatan Mental Karena itu, orang yang sering mendengarkan lagu sedih belum tentu merupakan pribadi yang selalu murung atau pesimis. Bisa jadi, ia justru menggunakan musik sebagai cara untuk memahami, menerima, atau menyalurkan emosinya.

Selera musik juga dapat menggambarkan bagaimana seseorang berhubungan dengan kenangan dan pengalaman masa lalu. Sebuah lagu yang pernah didengarkan bersama orang terkasih dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar melodi dan liriknya. Hal inilah yang membuat satu lagu terkadang mampu membawa seseorang kembali mengingat masa sekolah, keluarga, persahabatan, perjalanan, bahkan hubungan yang telah berakhir. Di Indonesia sendiri, data Spotify yang dihimpun Tempo menunjukkan kuatnya ketertarikan pendengar terhadap lagu-lagu bernuansa melankolis dan lirik yang emosional; dalam daftar Top 50 Indonesia yang dianalisis, banyak lagu memiliki karakter valence rendah dan nuansa akustik yang kuat. Dengan kata lain, pilihan musik tidak hanya berbicara tentang apa yang kita dengarkan, tetapi juga tentang cerita dan perasaan yang mungkin kita kaitkan dengan musik tersebut.

Selain sebagai cermin emosi, musik juga dapat menjadi bagian dari identitas sosial seseorang. Pilihan musik sering dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan, komunitas, keluarga, bahkan kelompok sosial yang membuat seseorang merasa memiliki identitas yang sama. Penjelasan Kompas mengenai proses sosialisasi juga menunjukkan bahwa kelompok pergaulan dapat memengaruhi berbagai hal dalam diri seseorang, termasuk kebiasaan, sudut pandang, dan selera musik. Tidak mengherankan jika seseorang merasa lebih dekat dengan orang lain hanya karena menemukan kesamaan penyanyi atau genre musik favorit. Musik akhirnya tidak hanya menjadi sesuatu yang didengar menggunakan headphone, tetapi juga menjadi bahasa sosial yang membantu seseorang menunjukkan siapa dirinya dan dengan kelompok mana ia merasa nyaman.

Pada akhirnya, selera musik memang dapat memberikan gambaran menarik mengenai kepribadian, emosi, pengalaman, dan lingkungan sosial seseorang, tetapi kita tidak seharusnya menilai seseorang hanya berdasarkan playlist-nya. Kepribadian manusia jauh lebih kompleks karena terbentuk dari berbagai faktor dan dapat berkembang sepanjang kehidupan. Bahkan, seseorang yang hari ini menyukai lagu-lagu sedih dapat saja beberapa tahun kemudian lebih menikmati musik yang ceria atau genre yang sama sekali berbeda. Musik justru menarik karena memberi ruang bagi manusia untuk berubah, bereksplorasi, sekaligus mengenali dirinya sendiri. Jadi, ketika seseorang bertanya, “Kamu suka musik apa?”, mungkin pertanyaan tersebut sebenarnya membuka kesempatan untuk mengenal lebih jauh cerita, perasaan, dan sisi dirinya yang tidak selalu terlihat dari luar. (Rosita – LPU)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....