Eco Enzyme, Cara Sederhana Kelola Sampah Organik dari Rumah yang Kini Kian Relevan
- 07 Agt 2026 19:37 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Krisis pengelolaan sampah yang tengah dihadapi Kota Surakarta mendorong masyarakat untuk mulai mengurangi sampah sejak dari rumah. Salah satu cara yang mulai banyak diperkenalkan adalah pembuatan eco enzyme, yakni cairan hasil fermentasi limbah organik yang tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga memiliki beragam manfaat untuk kebutuhan sehari-hari.
Eco enzyme merupakan cairan organik hasil fermentasi sisa buah dan sayuran dengan campuran gula merah atau molase dan air. Mengutip laman Kementerian Kesehatan RI, konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand, sebagai solusi mengolah sampah organik menjadi cairan multifungsi yang ramah lingkungan. Proses pembuatannya cukup sederhana, yakni menggunakan perbandingan 1 bagian gula, 3 bagian limbah organik, dan 10 bagian air yang kemudian difermentasi selama sekitar 90 hari.
Direktur Bank Sampah Bunga Raya, Nanik Purwati pada program Jagongan RRI Pro 4 Surakarta, 6 Agustus 2026, mengatakan persoalan sampah di Kota Solo saat ini sudah berada pada kondisi yang memprihatinkan. Selama bertahun-tahun, sebagian besar sampah hanya dipindahkan dari rumah menuju tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa melalui proses pemilahan, sehingga menyebabkan beban TPA semakin berat.
| Baca juga: Menelusuri Sejarah Sepeda Pertama di Dunia |
"Selama ini sistemnya hanya memindahkan sampah dari rumah ke TPA. Padahal itu bukan solusi, justru menimbulkan overload seperti yang terjadi di Putri Cempo. Karena itu masyarakat harus mulai mandiri mengelola sampah dari rumah dengan memilah sampah organik, anorganik, dan residu," ujarnya.
Menurutnya, sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, maupun sayuran tidak harus langsung dibuang. Selain bisa diolah menjadi kompos, limbah tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan eco enzyme. Ia mengaku hampir seluruh kulit buah yang dihasilkan di rumah dikumpulkan terlebih dahulu sebelum difermentasi menjadi eco enzyme.
"Di kulkas saya justru lebih banyak kulit buah daripada makanan. Semua saya kumpulkan, nanti dibuat eco enzyme. Dari situ bisa menjadi sabun cair, karbol ramah lingkungan, sampai sabun padat. Selain mengurangi sampah, juga menghemat pengeluaran rumah tangga," katanya.
Mengacu pada Kementerian Kesehatan, hasil fermentasi eco enzyme yang baik memiliki aroma asam segar khas fermentasi dengan tingkat keasaman (pH) sekitar 4. Cairan ini tidak memiliki masa kedaluwarsa selama disimpan dengan baik.
Eco enzyme dapat dimanfaatkan sebagai pembersih lantai, sabun cair alami, penghilang bau, pembersih peralatan rumah tangga, hingga bahan pembersih ramah lingkungan. Beberapa penelitian awal juga menyebutkan eco enzyme berpotensi dimanfaatkan sebagai antiseptik alami, meski penggunaan untuk keperluan medis tetap memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut.
Nani menambahkan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesadaran masyarakat. Ia mengajak warga menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) agar jumlah sampah yang dibuang ke TPA semakin sedikit.
"Sampahku adalah tanggung jawabku. Kalau kita semua mulai memilah dan mengolah sampah dari rumah, beban TPA akan jauh berkurang. Mengelola sampah memang harus dimulai dari kesadaran, niat, dan kepedulian," ucapnya.
Di tengah kondisi darurat sampah yang masih menjadi tantangan di Surakarta, eco enzyme menjadi salah satu contoh bahwa limbah rumah tangga tidak selalu berakhir sebagai sampah. Dengan proses yang sederhana dan biaya yang relatif murah, masyarakat dapat mengubah sisa dapur menjadi produk yang bermanfaat sekaligus ikut berkontribusi menjaga lingkungan. (Hil)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....