Pohon Durian Disayat saat Berbuah ternyata Berdampak Penting bagi Hasil Panen

  • 30 Jun 2026 14:30 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID,Surakarta - Di sejumlah sentra produksi durian di Indonesia, petani kerap melakukan tindakan yang mungkin terlihat tidak biasa. Ketika pohon sedang berbuah, batang atau cabang tertentu disayat tipis menggunakan pisau tajam. Bagi orang awam, perlakuan tersebut tampak seperti merusak tanaman. Padahal, jika dilakukan dengan teknik yang benar, penyayatan merupakan salah satu praktik budidaya yang bertujuan membantu pohon menghasilkan buah dengan kualitas lebih baik.

Berdasarkan Jurnal Agroplasma (2026) karya Widiani dan kawan, penyayatan yang dimaksud bukanlah melukai batang secara sembarangan. Sayatan dibuat secara terbatas pada bagian kulit batang atau cabang sehingga tidak memutus seluruh jaringan pengangkut tanaman. Dalam praktik budidaya, teknik ini sering dikenal sebagai ‘girdling’ atau pelukaan terkendali.

Tujuan utama penyayatan adalah mengatur distribusi hasil fotosintesis. Daun menghasilkan karbohidrat sebagai sumber energi yang kemudian dialirkan ke berbagai bagian tanaman. Ketika sebagian jalur pengangkut hasil fotosintesis dibatasi melalui sayatan tipis, lebih banyak cadangan makanan tertahan di bagian atas sayatan. Kondisi ini membuat buah memperoleh pasokan energi lebih besar sehingga pertumbuhannya dapat berlangsung lebih optimal.

Selain meningkatkan suplai nutrisi ke buah, penyayatan juga membantu menekan pertumbuhan vegetatif yang berlebihan. Pohon yang terlalu aktif membentuk tunas dan daun baru akan membagi energi untuk pertumbuhan tersebut. Akibatnya, perkembangan buah bisa kurang maksimal. Dengan mengurangi dominasi pertumbuhan vegetatif, energi tanaman lebih difokuskan pada pembesaran buah hingga proses pemasakan.

Petani juga memanfaatkan teknik ini untuk membantu menjaga kualitas hasil panen. Buah yang memperoleh pasokan karbohidrat cukup umumnya memiliki ukuran lebih seragam, daging buah berkembang lebih baik, dan cita rasa berpotensi menjadi lebih manis. Namun, hasil tersebut tetap dipengaruhi faktor lain seperti varietas, umur pohon, kesuburan tanah, ketersediaan air, dan pemupukan.

Meski memiliki manfaat, penyayatan bukan teknik yang boleh dilakukan sembarangan. Sayatan yang terlalu dalam dapat merusak jaringan kambium dan xilem yang berfungsi mengalirkan air serta unsur hara dari akar ke tajuk. Jika kerusakan terlalu parah, pohon justru mengalami stres, rentan terserang penyakit, bahkan dapat mengalami penurunan produktivitas.

Karena itu, petani berpengalaman biasanya hanya membuat sayatan tipis pada waktu tertentu, yakni ketika perkembangan buah telah memasuki fase yang sesuai. Setelah fungsi sayatan selesai, jaringan tanaman secara bertahap akan membentuk kalus atau jaringan penutup luka sehingga batang dapat kembali pulih.

Perlakuan sayatan yang dilakukan secara terkontrol mampu mendukung keberhasilan pertumbuhan pada sambung pucuk, sekaligus menegaskan bahwa pelukaan tanaman harus dilakukan secara presisi agar memberikan manfaat tanpa menimbulkan kerusakan permanen. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa teknik sayatan dalam budidaya durian memerlukan ketelitian dan dasar ilmiah, bukan sekadar kebiasaan turun-temurun.

Dengan demikian, penyayatan pohon durian saat berbuah bukanlah tindakan merusak tanaman. Sebaliknya, teknik ini merupakan salah satu upaya budidaya untuk mengatur aliran hasil fotosintesis sehingga tanaman dapat lebih fokus mendukung pertumbuhan buah. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada ketepatan waktu, kedalaman sayatan, serta kondisi kesehatan pohon. Oleh sebab itu, teknik ini sebaiknya hanya dilakukan oleh petani yang memahami prinsip budidaya durian secara benar. (Nuri)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....